KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah berdiri lebih dari enam dekade, Undana resmi membuka dua program studi spesialis pertama di wilayah ini, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi.
Kepastian ini menyusul terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 78/B/O/2026 tertanggal 15 Januari 2026. Pengumuman bersejarah tersebut disampaikan langsung oleh Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., dalam konferensi pers di Aula Rektorat, Selasa (20/1/2026).



Menjawab Kelangkaan Dokter Spesialis di NTT
Rektor Undana menegaskan bahwa pembukaan program spesialis ini merupakan komitmen nyata institusi untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan di NTT. Selama ini, keterbatasan dokter spesialis menjadi tantangan besar bagi rumah sakit di daerah dalam memberikan layanan medis yang optimal.
“Ini adalah jawaban atas tantangan kesehatan di NTT. Kami ingin memastikan bahwa layanan kesehatan, seperti operasi dan penanganan intensif, tidak lagi terkendala oleh minimnya tenaga ahli. Undana hadir untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat,” ujar Prof. Jefri Bale.

Standar Mutu dan Kolaborasi Pemerintah Daerah
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., menambahkan bahwa universitas segera menyiapkan regulasi internal melalui SK Rektor untuk mengatur Standar Operasional Prosedur (SOP) seleksi mahasiswa. Undana juga akan menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda) terkait beasiswa bagi dokter daerah yang ingin menempuh pendidikan spesialis.
“Daya tampung akan kami kelola secara terukur sesuai rasio dosen dan fasilitas yang tersedia. Kami tidak ingin melebihi kapasitas agar mutu pendidikan tetap terjaga dan sesuai dengan standar Kementerian,” jelas Prof. Annytha.
Distribusi Tenaga Medis yang Lebih Merata
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Hewan (FKKH) Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi., menyoroti ketimpangan distribusi dokter spesialis di wilayah NTT. Menurutnya, banyak rumah sakit daerah yang bahkan belum memiliki dokter spesialis dasar, sehingga menghambat layanan bedah dan persalinan berisiko tinggi.

“Lulusan dari program ini nantinya diharapkan memiliki kualitas yang setara dengan standar nasional karena proses pendiriannya terus didampingi oleh fakultas kedokteran pembina. Calon dosen spesialis kami juga telah melewati pelatihan dan sertifikasi ketat,” tegas Dr. dr. Christina.
Undana menargetkan penerimaan mahasiswa angkatan pertama pada semester genap Tahun Akademik 2026/2027. Kehadiran prodi spesialis ini diharapkan menjadi tonggak percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di pelosok NTT. (IyL)
