(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Hadirkan Dampak Nyata: Prodi Farmasi Undana Edukasi Siswa di Pulau Semau Manfaatkan Kelor Atasi Anemia

KUPANG – Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana), menunjukkan komitmen nyata dalam memutus rantai masalah kesehatan masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur. Melalui tim pengabdian masyarakat, Undana menggelar edukasi strategis bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Semau di Desa Otan, Kecamatan Semau, Kamis (5/2/2026), mengenai pemanfaatan kelor (Moringa oleifera) sebagai solusi mandiri mengatasi anemia pada remaja.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga upaya konkret Undana dalam mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting melalui pencegahan anemia pada remaja putri sejak dini.

Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal

Ketua tim pengabdian, Muhajirin Dean, Apt., M.Sc., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Pulau Semau bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui potensi alam setempat. Anemia pada remaja sering kali dianggap kelelahan biasa, padahal berdampak serius pada penurunan konsentrasi belajar dan potensi kognitif.

“Intervensi sejak masa remaja adalah kunci. Jika tidak dicegah, anemia pada remaja putri berisiko menciptakan siklus malnutrisi antargenerasi, seperti bayi berat lahir rendah (BBLR) di masa depan. Kelor adalah ‘gudang nutrisi’ yang tersedia melimpah di tanah NTT untuk menjawab tantangan ini,” tegas Muhajirin.

Kelor: Paket Nutrisi Lengkap Melampaui Susu dan Bayam

Dalam sesi pemaparan ilmiah, anggota tim Muntasir mengungkapkan fakta laboratorium bahwa daun kelor mengandung zat besi (Fe) mencapai 28-36 mg per 100 gram bahan kering, jauh melampaui sumber nabati lain seperti bayam. Uniknya, kelor juga kaya akan Vitamin C yang berfungsi sebagai katalisator alami untuk mempercepat penyerapan zat besi dalam tubuh.

“Pendekatan farmasi tidak selalu identik dengan obat sintetis. Pencegahan melalui pangan fungsional lokal adalah fondasi kesehatan masyarakat yang paling kuat, berdaulat, dan masuk akal secara ekonomi bagi warga NTT,” jelas Muntasir.

Praktik Mandiri: Dari Budidaya hingga Pengolahan

Sebanyak 40 siswa terlibat aktif dalam dua sesi praktik utama yang dipandu oleh Tadeus Andreas Lada Regaletha. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan:

  1. Budidaya Praktis: Teknik perbanyakan kelor melalui stek batang agar lebih cepat dipanen. Setiap siswa membawa pulang bibit hasil karyanya sendiri sebagai proyek mandiri di rumah.
  2. Pengolahan Kreatif: Transformasi daun kelor menjadi teh herbal dan bubuk kelor (superfood booster) yang dapat dicampurkan ke dalam smoothies, adonan mie, hingga sop tanpa mengurangi nilai gizinya.

Apresiasi dan Keberlanjutan

Kepala SMAN 1 Semau, Adelci Margarita Bana, memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran tim Undana. Menurutnya, pendekatan praktis ini membuat siswa merasa menjadi bagian dari solusi kesehatan di desa mereka.

“Ini bukan sekadar penyuluhan biasa. Siswa belajar, mempraktikkan, dan membawa pulang bibit serta pengetahuan yang bisa langsung diterapkan di keluarga. Inilah bentuk pengabdian yang berkelanjutan,” ungkap Adelci.

Melalui aksi ini, Undana membuktikan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas di ruang kelas, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata atas persoalan kesehatan daerah melalui kedaulatan pangan lokal. (Ing)

Comments are closed.
Archives