(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Rektor Undana Resmikan Kolam Bundar Berteknologi Nano Bubble, Teaching Factory Perikanan Jadi Inkubator Bisnis Mahasiswa

KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) secara resmi mengoperasikan Teaching Factory Perikanan yang baru, ditandai dengan peresmian pemanfaatan kolam bundar oleh Rektor Undana, Prof. Ir. Maxs U.E. Sanam, M.Sc., Ph.D., pada Rabu, 26 November 2025. Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Lahan Kering Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPKP) ini merupakan langkah nyata transformasi kampus menjadi pusat produksi dan inkubator bisnis berbasis sains terapan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam simbolisasi peresmian, Rektor Undana melakukan penebaran 15.000 ekor benih ikan gurami dan nila. Kegiatan ini didampingi oleh Dekan dan jajaran FPKP, serta dua asesor lapangan, Prof. Dr. Tati Nurhayati, S.Pi., M.Si. Kepala Divisi Bahan Baku Hasil Perairan – Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB serta Prof. Dr. Rinto, S.Pi., M.P yang berasal dari Prodi Teknologi Hasil Perikanan Universitas Sriwijaya. Keduanya tengah melakukan penilaian akreditasi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP).

Keterlibatan asesor lapangan dalam momen peresmian dan asesmen akreditasi Prodi MSP menunjukkan keterpaduan antara peningkatan mutu akademik dengan pembangunan fasilitas produksi. Evaluasi asesor akan memastikan bahwa proses pengajaran, sarana prasarana, dan output mahasiswa berada dalam jalur transformasi kurikulum Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (Project Based Learning).

<p align="justify"Prof. Maxs Sanam menegaskan bahwa Teaching Factory (TF) ini merupakan respons cepat Undana terhadap agenda hilirisasi di sektor strategis. Ia menekankan bahwa fasilitas ini bukan sekadar sarana pembelajaran, melainkan sebuah model produksi berbasis kampus yang berfungsi menjembatani mahasiswa dengan pasar dan kebutuhan industri daerah.

“Pemanfaatan kolam bundar dengan teknologi penyediaan nano bubble ini merupakan langkah awal penting sebagai platform pembuktian kapasitas Undana dalam mengembangkan teknologi budidaya yang adaptif, efisien, dan ekonomis, khususnya untuk mengatasi tantangan lahan kering di NTT,” ujar Prof. Maxs.

Keberadaan kolam bundar telah mengubah lanskap pembelajaran di FPKP, sebagai wadah implementasi berbagai modul pembelajaran baru, mulai dari biosecurity, manajemen kualitas air, efisiensi pakan, hingga teknik panen dan pascapanen, yang mengintegrasikan akademik, riset, produksi, dan edukasi publik secara simultan.

Rektor Undana juga menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan utama memperkuat kompetensi praktis mahasiswa, sekaligus menciptakan rantai pasok mini skala kampus yang mampu berkembang menjadi model bisnis mahasiswa maupun inkubator usaha berbasis perikanan (start-up). Lulusan diharapkan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keahlian manajerial dan kewirausahaan.

Wakil Dekan Fakultas Peternakan Kelautan dan Perikanan Undana, Dr, Franchy Christian Liufeto, S.Pi., M.Si, dosen yang memfasilitasi kegiatan, menegaskan bahwa Undana harus menyambut era hilirisasi dengan kesiapan maksimal. “Teaching Factory yang digerakkan tahun ini menjadi pintu masuk untuk mencetak lulusan yang mampu mengelola sumber daya perairan secara produktif dan berkelanjutan, memastikan budidaya ikan menjadi keahlian strategis untuk ketahanan pangan NTT,” tegasnya.

Pemilihan komoditas gurami dan nila dilakukan secara strategis karena permintaan pasar yang stabil, kemudahan pemasaran, dan kesesuaian komoditas tersebut untuk pembelajaran skala menengah yang dapat langsung dikembangkan menjadi ide bisnis mahasiswa.

Dengan peresmian ini, Teaching Factory Perikanan Undana memasuki fase operasional yang lebih jelas. Perguruan tinggi ini menegaskan satu pesan penting: kampus bertransformasi menjadi motor utama perubahan yang tidak tinggal diam menghadapi tuntutan hilirisasi, melainkan menjadi pusat inovasi dan pusat produksi berbasis sains terapan, siap mendukung industri budidaya di NTT. (Ing)

Comments are closed.
Archives