(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Kunci Penanggulangan Rabies di NTT: Masyarakat Harus Pegang Kendali

KUPANG – Ancaman virus rabies kembali membayangi Nusa Tenggara Timur (NTT), menciptakan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, menurut Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc, yang ditemui pada saat gelaran ICAHMedScience 2025 bersama FKKH Undana, penyakit mematikan ini bukanlah hal baru dan bisa dikendalikan. Kunci utama keberhasilan, menurutnya, terletak pada komitmen dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Sebelum berbicara tentang penanggulangan, penting untuk memahami bahaya rabies. Rabies adalah penyakit zoonosis, artinya menular dari hewan ke manusia, yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menyerang sistem saraf pusat dan dapat berujung pada kematian jika tidak ditangani segera. Penularan utamanya terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi, di mana virus dalam air liur masuk ke dalam tubuh korban dan bergerak menuju otak.

Peran Kritis Masyarakat dalam Memutus Rantai Penularan

Menanggulangi rabies bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Prof. Maxs mencontohkan keberhasilan Inggris yang berhasil bebas dari rabies berabad-abad lalu dengan menerapkan aturan ketat. “Waktu itu di Inggris, semua anjing tidak boleh dilepas berkeliaran, tapi harus dikandangkan,” jelasnya. Ini membuktikan bahwa ketaatan masyarakat pada aturan adalah fondasi utama keberhasilan.

Masyarakat NTT dapat mengambil beberapa tindakan nyata untuk menanggulangi penyebaran rabies. Pertama, patuh pada aturan yang berlaku. Praktik penyelundupan anjing dari daerah endemik, seperti Flores, harus dihentikan. Aturan pemerintah dibuat untuk melindungi, bukan untuk dilanggar.

Second, vaksinasi massal adalah harga mati. Vaksinasi adalah langkah paling efektif untuk membangun kekebalan kelompok dan mencegah penularan virus. Setiap pemilik hewan peliharaan, terutama anjing, wajib memastikan hewan mereka divaksinasi secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan oleh dinas terkait.

Third, kandangkan hewan peliharaan Anda. Jangan biarkan anjing berkeliaran tanpa pengawasan. Mengendalikan pergerakan anjing dapat meminimalkan risiko kontak dengan anjing liar atau anjing yang terinfeksi, sehingga mengurangi potensi penyebaran.

Fourth, waspada dan responsif. Jika Anda atau orang terdekat digigit oleh anjing atau hewan lain yang dicurigai rabies, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir. Setelah itu, secepatnya datangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. Tindakan cepat ini bisa menjadi penentu hidup dan mati.

Fifth, jadilah agen edukasi. Sebarkan informasi mengenai bahaya rabies, pentingnya vaksinasi, dan langkah-langkah penanggulangan kepada keluarga, tetangga, dan komunitas. Semakin banyak orang yang teredukasi, semakin kuat benteng pertahanan kita terhadap virus ini.

Keenam, dukung program pemerintah. Masyarakat harus mendukung setiap inisiatif pemerintah, seperti program vaksinasi gratis atau sosialisasi penanggulangan. Kerja sama yang solid antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat akan mempercepat tercapainya NTT bebas rabies.

Prof. Maxs Sanam menegaskan, tanpa komitmen masyarakat, semua upaya pemerintah akan sia-sia. “Masyarakat harus patuh terhadap semua aturan yang dikeluarkan pemerintah,” pungkasnya. Keberhasilan dalam mengatasi rabies di NTT sepenuhnya berada di tangan kita, sebagai bagian dari komunitas.

Penyakit rabies adalah ancaman serius, tetapi bukan hal yang tidak bisa diatasi. Dengan pemahaman yang benar, ketaatan pada aturan, dan partisipasi aktif, masyarakat NTT bisa menjadi pahlawan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini. Sudah saatnya kita bergerak bersama demi terciptanya NTT yang lebih aman dan sehat bagi seluruh warganya.(Ing)

Comments are closed.
Archives