(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Perangi Penyakit Global : Undana Soroti Peran Probiotik, Teh Hijau, hingga Kesiapsiagaan Rabies Lintas Batas

KUPANG — Seminar Internasional The 4th International Conference on Animal and Human Medical Science (ICAHMedScience) 2025 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur, menjadi panggung bagi para ilmuwan dunia untuk membahas tiga isu kesehatan yang sangat relevan. Konferensi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana) ini tidak hanya mengupas inovasi medis, tetapi juga menekankan pendekatan “One Health”, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Pangan Fungsional dari Limbah: Solusi Sehat dan Berkelanjutan

Materi pertama yang menjadi sorotan dibawakan oleh Prof. Dr. Santad Wichienchot dari Prince of Songkla University, Thailand. Ia memaparkan manfaat krusial dari prebiotik dan probiotik bagi kesehatan manusia dan hewan. Probiotik, sebagai mikroorganisme hidup, berperan menjaga keseimbangan mikrobiota usus, sementara prebiotik berfungsi sebagai nutrisi bagi bakteri baik tersebut. Prof. Santad menunjukkan temuan menarik dari risetnya, di mana limbah pangan seperti kulit buah naga dan singkong dapat diolah menjadi oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik alami. Temuan ini membuka peluang besar untuk menciptakan pangan fungsional yang sehat dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi limbah.

Teh Hijau sebagai Senjata Baru Pencegah Kanker

Selanjutnya, Prof. Dr. Djoko Agus Purwanto dari Universitas Airlangga membahas potensi besar senyawa Epigallocatechin Gallate (EGCG) yang terkandung dalam teh hijau. Menurutnya, EGCG memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, bahkan 100 kali lebih hebat dari vitamin C. EGCG bekerja dengan cara menangkal radikal bebas dan melindungi DNA, serta memicu kematian sel pada sel-sel kanker. Potensi EGCG sebagai agen kemopreventif (pencegah kanker) berbasis herbal ini dinilai sangat menjanjikan, mengingat sumbernya yang alami dan relatif aman dikonsumsi jangka panjang.

Tantangan Rabies dan Pentingnya Kolaborasi Lintas Batas

Isu penting lain yang dibahas adalah ancaman zoonosis rabies yang dipaparkan oleh dr. Florindo Cardoso Gomes dari Timor Leste. Ia menyoroti lonjakan kasus rabies di negaranya sejak tahun 2024, yang telah mengakibatkan enam kematian manusia. Keterbatasan akses vaksin, distribusi logistik yang sulit di daerah terpencil, serta rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan utama. Dr. Florindo menekankan bahwa upaya penanggulangan rabies membutuhkan kerja sama lintas sektor yang kuat, melibatkan pemerintah, lembaga internasional seperti WHO, dan negara-negara mitra seperti Indonesia dan Australia, terutama di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur.

Ancaman Global: Resistensi Antimikroba (AMR)

Selain rabies, Dr. Gillian Marshman dari Flinders University, Australia, menyoroti isu Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antibiotik, sebagai ancaman kesehatan global. Materi ini menekankan bahwa penanganan AMR tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui sinergi riset antara kesehatan manusia, hewan, dan farmasi. Pendekatan “One Health” menjadi kunci untuk menekan laju resistensi antibiotik yang kian mengkhawatirkan.

Secara keseluruhan, ICAHMedScience 2025 menegaskan kembali peran strategis Undana sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui kolaborasi internasional ini, hasil riset dan diskusi diharapkan dapat memberikan solusi nyata untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari isu pangan, pencegahan penyakit degeneratif, hingga ancaman zoonosis yang dapat melintasi batas negara. (Iyl)

GALERI FOTO

Comments are closed.
Archives