KUPANG – Sebuah kebanggaan kembali disematkan untuk Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui prestasi gemilang salah seorang mahasiswinya. Helna Sani Elianora Kana, mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undana, sukses menyabet dua medali perak dalam ajang bergengsi Kejuaraan Nasional Shorinji Kempo RUC XVII 2025. Kompetisi tingkat nasional tersebut diselenggarakan di GOR Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 27 hingga 29 Juni lalu.
Dalam kejuaraan yang mempertemukan para atlet Shorinji Kempo terbaik dari berbagai perguruan tinggi dan dojo di seluruh Indonesia, Helna menunjukkan performa luar biasa. Ia berhasil meraih Juara 2 Randori Dewasa Putri Kelas 50Kg dan Juara 2 Embu Pasangan Campuran Dewasa 1 DAN. Helna merupakan salah satu dari lima kontingen yang mewakili daerahnya, terdiri dari dua peserta di kelas dewasa dan tiga di kelas remaja, menunjukkan kapasitas atlet muda NTT di kancah nasional.

Perjalanan Penuh Tekad: Dari Kupang Menuju Podium Nasional
Motivasi Helna untuk mengikuti kejuaraan ini sangat kuat, berakar pada tekadnya untuk terus berkembang di dunia bela diri Shorinji Kempo. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa mahasiswi dari daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki potensi besar untuk bersaing dan bersinar di panggung nasional. Keikutsertaannya sekaligus menjadi representasi kualitas dan daya juang mahasiswa/i FEB Undana.
“Motivasi saya mengikuti kejuaraan ini berasal dari keinginan untuk terus berkembang di dunia Shorinji Kempo dan membuktikan bahwa potensi anak daerah bisa bersinar di tingkat nasional,” ujar Helna saat diwawancarai. “Saya membawa nama daerah dalam kejuaraan ini, dan sebagai mahasiswa Undana, saya juga merasa bertanggung jawab untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Undana mampu berprestasi di luar akademik, termasuk di bidang olahraga bela diri.”


Helna mengakui, kejuaraan ini menguji fisik dan mentalnya secara maksimal. Salah satu tantangan terberat adalah ia harus bertanding dua nomor sekaligus dalam satu hari, pada 27 Juni. “Saya harus tampil di nomor embu dulu, kemudian langsung lanjut ke nomor randori. Di situ saya benar-benar diuji dari segi fokus, stamina, dan ketahanan mental,” kenangnya. “Rasanya seperti harus ‘menggandakan tenaga’ dalam waktu yang sangat singkat, dan itu bukan hal yang mudah.”
Selain tantangan di arena, Helna juga menghadapi kesulitan dalam membagi waktu antara latihan intensif, tugas perkuliahan, dan kewajiban magangnya. Dengan manajemen waktu yang ketat, ia berhasil menyeimbangkan semua tanggung jawab tersebut sambil menjaga kondisi fisik dan mentalnya. Dukungan dari berbagai pihak menjadi kunci keberhasilannya melewati masa-masa sulit ini.
“Sebelum kejuaraan pun, tantangannya cukup berat. Saya harus membagi waktu antara latihan intensif, tugas kuliah, dan kewajiban magang,” tambahnya. “Manajemen waktu jadi kunci, karena saya harus menyesuaikan semuanya tanpa mengorbankan salah satu. Di samping itu, menjaga kondisi fisik agar tetap fit dan mengelola stres juga jadi tantangan tersendiri. Tapi dengan dukungan dari banyak pihak, semua tantangan itu bisa saya lewati dengan baik.”
Keberhasilan Helna tidak lepas dari peran penting berbagai pihak yang memberikan dukungan penuh. Ia menyebut Sensei George Hadjo, pelatihnya, sebagai sosok paling berperan dalam membentuk kesiapan teknis dan mentalnya. “Beliau selalu memberikan arahan yang tegas namun membangun, dan membantu saya terus berkembang dari sesi ke sesi latihan,” ucap Helna penuh terima kasih.

Selain Sensei George, keluarga Helna juga menjadi sumber semangat dan doa yang tak terhingga. Tak hanya itu, pihak BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kupang, tempat Helna menjalani magang, turut memberikan dukungan signifikan. Mereka memberikan izin dan fleksibilitas waktu agar Helna bisa fokus mempersiapkan diri dan mengikuti kejuaraan. Dukungan moral dari rekan-rekan dojo dan teman magang juga menguatkan kepercayaan dirinya.
“Kedua, keluarga saya yang selalu mendukung penuh, menjadi sumber semangat dan doa di balik semua proses ini,” katanya. “Kemudian, pihak BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kupang tempat saya magang juga sangat mendukung, dengan memberi izin dan fleksibilitas waktu agar saya bisa fokus menjalani pertandingan. Tidak kalah penting, teman-teman saya baik di dunia Kempo maupun di lingkungan magang selalu memberikan semangat dan dukungan moral yang membuat saya tetap percaya diri.”
Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang, Helna tak kuasa menahan rasa haru dan bahagia. “Rasanya luar biasa. Saya sangat bersyukur karena Tuhan Yesus begitu baik, masih memberi saya kesempatan untuk merasakan momen menjadi seorang juara,” ungkapnya. “Perasaan saya saat itu campur aduk; saya merasa lega karena saya berhasil menyelesaikan ‘misi’ ini dengan hasil dua medali, haru karena mengingat seluruh proses yang saya jalani, dan tentu saja bangga atas pencapaian ini.”
Ke depan, Helna memiliki target besar. Ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) bela diri yang akan dilaksanakan pada Oktober 2025. Selain terus berkompetisi, Helna juga bertekad untuk berkontribusi dalam pembinaan generasi muda di dunia Shorinji Kempo, khususnya di daerah asalnya. “Saya juga ingin terus berkontribusi dalam membina generasi muda di dunia Kempo, agar olahraga bela diri ini semakin dikenal dan diminati, khususnya di daerah saya,” ujarnya penuh semangat.

Pada akhir wawancara, Helna menyampaikan pesan inspiratif bagi mahasiswa Undana lainnya. “Jangan ragu untuk mengejar apa yang kalian cintai, baik itu olahraga, seni, atau bidang non-akademik lainnya,” pesannya. “Selama ada kemauan, disiplin, dan kemampuan mengatur waktu, semuanya bisa dicapai. Saya juga ingin meyakinkan teman-teman mahasiswa bahwa Undana sangat mendukung mahasiswanya untuk berprestasi di luar akademik. Dari pengalaman saya sendiri, dukungan dari kampus khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis sangat terasa dan membantu saya dalam meraih prestasi ini. Jadi, jangan takut untuk melangkah dan tunjukkan kemampuan terbaik kalian.”
Dengan semangat juang, disiplin, dan dukungan yang solid, Helna Sani Elianora Kana telah membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah sekalipun mampu bersaing dan mengukir prestasi di tingkat nasional. Capaian dua medali perak ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi untuk seluruh civitas akademika Undana. Harapannya, kisah perjuangan Helna menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk berani bermimpi, berlatih dengan keras, serta menunjukkan bahwa Undana mampu bersinar di segala bidang. (Iyl)
