KUPANG – Agenda pengukuhan guru besar di Universitas Nusa Cendana (Undana) pada Rabu, 14 Januari 2026, akan mencatatkan sejarah baru. Di balik toga profesor yang akan dikenakan Prof. Dr. Drs. Andreas Ande, M.Si., sebagai Guru Besar dalam bidang Sejarah Kebudayaan Daerah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tersimpan narasi perjuangan hidup yang luar biasa—sebuah perjalanan dari kebun kemiri di Kringa hingga menjadi otoritas tertinggi di bidang sejarah kebudayaan NTT.
Lahir di Kringa, Sikka, pada 10 Oktober 1962, Andreas Ande adalah putra dari pasangan petani sederhana, mendiang Bapak Ande Mbani dan Ibu Maria Gode. Kehidupannya ditempa oleh getirnya yatim di usia tujuh tahun dan kerasnya ekonomi pedesaan. Namun, dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan membawanya meraih gelar Sarjana Pendidikan Sejarah di Undana (1988), Magister Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Airlangga (1998), hingga menyabet gelar Doktor Pendidikan di Universitas Negeri Malang pada 2016 dengan predikat sangat memuaskan.

Jejak Pengabdian dan Kepakaran
Sepanjang kariernya sejak diangkat sebagai PNS pada 1990, Prof. Ande tidak hanya berdiam diri di ruang kelas. Data CV-nya mencatat rekam jejak pengabdian yang luas, mulai dari menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Undana (2001-2005) hingga dipercaya sebagai Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi NTT.
Kepakarannya dalam Sejarah Kebudayaan Daerah terdokumentasi dalam berbagai publikasi ilmiah prestisius. Beberapa penelitian unggulannya meliputi studi tentang revitalisasi peran tokoh adat dalam pembangunan, hingga penelitian mendalam mengenai “Mitos Kedatangan Etnis Sikka” dan “Tradisi Perburuan Paus di Lamalera”. Dedikasi ini menjadikannya figur sentral dalam pelestarian identitas budaya Nusa Tenggara Timur di tengah gempuran modernisasi.
Visi Merdeka Belajar Berbasis Budaya Lokal
Dalam orasi ilmiahnya yang akan disampaikan pada hari rabu mendatang, Prof. Ande membawa misi besar. Ia menekankan bahwa sejarah lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi karakter.
“Sejarah kebudayaan daerah harus menjadi ruang refleksi agar generasi muda NTT tidak tercerabut dari akarnya. Kurikulum Merdeka harus mampu mengintegrasikan kearifan lokal agar manusia NTT memahami jati dirinya,” tegas pria yang juga aktif sebagai penulis buku Strategi Pembelajaran dan Sejarah Asia Tenggara ini.
Pribadi Tangguh dan Kreatif
Selain sisi akademik, Prof. Ande dikenal karena daya juangnya yang tinggi. Di masa kuliah, ia tak segan bekerja sebagai buruh bangunan hingga pembuat furnitur kayu untuk menyambung hidup. Kreativitas ini pula yang ia bawa dalam mengelola pendidikan; melihat keterbatasan bukan sebagai hambatan, melainkan peluang untuk berinovasi.
Pengukuhan Prof. Andreas Ande pada 14 Januari mendatang adalah pengakuan atas konsistensi dan integritas seorang pendidik yang lahir dari rahim keterbatasan. Kehadirannya sebagai Guru Besar bukan hanya kebanggaan bagi keluarga besar Undana, tetapi juga menjadi lentera harapan bagi anak-anak di pelosok NTT bahwa puncak tertinggi akademik dapat diraih dengan keteguhan hati dan cinta pada akar kebudayaan sendiri. (Alberto)
