{"id":5135,"date":"2020-12-11T14:51:03","date_gmt":"2020-12-11T06:51:03","guid":{"rendered":"https:\/\/undana.ac.id\/?p=5135"},"modified":"2020-12-11T14:51:03","modified_gmt":"2020-12-11T06:51:03","slug":"undana-pemprov-ntt-komit-ciptakan-mahasiswa-jadi-pengusaha-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2020\/undana-pemprov-ntt-komit-ciptakan-mahasiswa-jadi-pengusaha-pertanian\/","title":{"rendered":"Undana-Pemprov NTT Komit Ciptakan  Mahasiswa jadi Pengusaha Pertanian"},"content":{"rendered":"<p>Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bercirikan lahan kering kepualauan harus dikelola secara baik untuk kemaslahatan masyarakat setempat. Karena itu, Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Pemerintah Provinsi\u00a0 Nusa Tengara Timur (NTT) berkomitmen untuk menciptakan mahasiswa menjadi pengusaha pertanian.\u00a0 Hal tersebut terkuak dalam Seminar Nasional Pertanian VII Fakultas Pertanian, Undana dengan Tema <em>\u201cPola Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan\u201d <\/em>di lantai tiga Aula Undana Penfui, Kamis (26\/11) pagi.<\/p>\n<p>Hadir pada kesempatan itu, Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat, Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D, Peneliti Utama Balitbangtan Kementerian Pertanian, Prof. Hengky Novrianto, Prof HJD Lalel, Prof INW Mahayasa, Staf Khusus Gubernur NTT, Imanuel Blegur dan Pius Rengka, Kadis PKP NTT Lecky Frederick Koli, Kadis PUPR NTT Maxi Nenabu, Dekan Fakultas Pertanian Undana, Dr Damianus Adar dan puluhan dosen, pegawai serta mahasiswa.<\/p>\n<p>Gubernur NTT VBL dalam materinya tentang \u201cPembangunan pertanian NTT mendukung ketahanan pangan nasional\u201d mengatakan, program utama ekonomi di NTT ada pada pariwisata sebagai prime mover yang kaitan erat dengan pertanian lahan kering. Karena itu, ia meninta Undana agar melatih dan mendidik mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian agar hidup mandiri, menjadi pengusaha pertanian bukan menjadi pegawai negeri sipil.<\/p>\n<p>Gubernur\u00a0 menegaskan, jika zaman dulu, banyak orang sekolah pertanian dengan semangatnya untuk menjadi pegawai negeri sipil, saat ini harus diubah sehingga mahasiswa pertanian harus menjadi pengusaha pertanian.<\/p>\n<p>VBL mengaku tahu jika Undana dan beberapa kampus lain di NTT memiliki jurusan pertanian tetapi jarang masyarakat mendengar ada lulusan pertanian di Undana yang sukses menjadi pengusaha pertanian.<\/p>\n<p>Ia mengkritisi, banyak sekolah yang mengajarkan pertanian, tetapi jebolannya enggan menjadi petani. Karena itu, mahasiswa harus bisa membantu dirinya dengan mulai berprofesi sebagai petani, agar mereka bisa mandiri dan tidak membebani masyarakat dan pemerintah. \u201cBanyak sekolah yang belajar pertanian tetapi petaninya masih miskin. Mahasiswa harus dikirim ke masyarakat untuk membantu diri sendiri bukan membantu masyarakat, agar mereka bisa mandiri dan nanti menjadi petani atau pengusaha pertanian sehingga kesan membantu masyarakat itu dirubah. Undana kita tahu kalau memiliki jurusan pertanian tetapi jarang kita dengar mahasiswa pertanian sukses sebagai pengusaha pertanian sehingga ini perlu diperhatikan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Menurut VBL, sudah ada beberapa Bendungan di NTT yang telah dibangun Presiden namun belum dikelola dengan baik sehingga Undana harus berkolaborasi dengan pemerintah untuk manfaatkan air yang ada di bendungan bagi pembangunan pertanian.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, mahasiswa pertanian Undana harus disiapkan dengan baik agar mandiri menjadi pengusaha pertanian. Mahasiswa harus dimotivasi untuk memiliki semangat dalam berwirausaha.<\/p>\n<p>Ia mendorong Undana melalui Fakultas Pertanian untuk langsung action di lapangan dalam membangun pertanian serta melatih dan menciptakan mahasiswa yang mandiri dalam membangun pertanian di NTT.<\/p>\n<p>\u201cSatu minggu setelah seminar ini silahkan Undana bertemu dengan kadis PKP agar segera bangun koordinasi dalam membangun pertanian di NTT. Jangan kita seminar-seminar saja terus tetapi tidak ada hasil tindak lanjut yang baik,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Sementara Rektor, Prof. Fred Benu dalam paparannya mengaku Undana siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk membangun pertanian lahan kering di NTT. Ia mengaku, sejak Undana didirikan 1982, telah menjadikan pertanian sebagai pola ilmiah pokok (PIP). Namun, seiring berjalannya waktu, PIP seolah hanya pada Fakultas Pertanian saja. Karena itu, sejak dirinya dipercayakan memimpin Undana, PIP kemudian diperbaharui menjadi lahan kering kepulauan. Hal tersebut agar semua disiplin ilmu bisa diintegrasikan ke dalam lahan kering. \u201cJadi bukan lagi pertanian lahan kering, tetapi lahan kering kepulauan. Sehingga, di Undana orang bisa belajar pertanian lahan kering kepulauan, peternakan lahan kering kepulauan, perikanan lahan kering kepulauan, juga masalah sosial, hukum, kesehatan, pendidikan lahan kering kepulauan,\u201d terang rector dua periode itu.<\/p>\n<p>Karena itu, ia mengajak masyarakat NTT, maupun Indonesia umumnya, yang memiliki keinginan belajar lahan kering kepulauan agar datang dan belajar di Undana. Prof. Fred mengaku jika telah menjajaki kerjasama dengan tiga OPD yaitu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Peternakan. Dalam waktu dekat untuk program Dinas Pertanian pada musim tanam ini sudah bisa dieksekusi, sedangkan program Dinas Kelautan dan Perikanan dan Dinas Peternakan paling lambat dieksekusi pada Januari 2021.<\/p>\n<p>\u201cTadi pak Gubernur sudah menyampaikan terkait pembangunan pertanian lahan kering di NTT. Kami sudah bekerjasama dengan SKPD yang ada di NTT, dan dalam waktu dengan saat musim tanam ini mahasiswa kami akan arahkan untuk turun ke masyarakat sesuai kapasitasnya, kami sudah merancang kurikulum terkait hal itu sehingga 40 persen tatap muka 60 persen mahasiswa di lapangan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Ia juga medukung, serta mengapresiasi pola tanam masyarkat sesuai dengan iklim dan topografi di NTT. Salah satunya adalah pola tanam dengan menggunakan metode SALOME. \u201cPola tanam yang sudah sejak lama dilakukan di NTT, yakni SALOME:satu lobang rame-rame. Apa maksudnya? Petani kita menanam ubi, jagung, kacang, dan labu di dalam satu lubang tanam. Ini karena ketika ubi gagal, masih ada jagung, jika jagung gagal, masih ada kacang, jika kacang gagal, masih ada labu. (Pola tanam) ini perlu kita dukung, sebagai kearifan lokal petani kita,\u201d ujar Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian itu.<\/p>\n<p>Untuk diketahui, pada sesi kedua seminar tersebut, hadir tiga narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto, MS (Peneliti Utama Balitbangtan, Kementerian Pertanian) dengan materi \u201cKebijakan Pemerintah dalam Mengelola Palma di Indonesia\u201d. Prof. Ir. H. D. J. Lalel, M. Si., Ph. D (Peneliti Undana, Kalab Bioscience Undana) dengan materi \u201cKondisi Lontar dan Palma pada Umumnya di NTT\u201d dan Prof. Ir. I Nnyoman W. Mahayasa, MP (Peneliti Undana, Kalab. Lahan Kering Kepulauan, Undana) dengan materi \u201cPengembangan Industri Lontar di NTT\u201d. [ael\/ds]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bercirikan lahan kering kepualauan harus dikelola secara baik untuk kemaslahatan masyarakat setempat. Karena itu,&nbsp;<a href=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2020\/undana-pemprov-ntt-komit-ciptakan-mahasiswa-jadi-pengusaha-pertanian\/\">&hellip;<\/a><\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":5136,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-5135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","odd"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}