{"id":48991,"date":"2025-09-24T21:42:07","date_gmt":"2025-09-24T13:42:07","guid":{"rendered":"https:\/\/undana.ac.id\/?p=48991"},"modified":"2025-09-24T21:42:07","modified_gmt":"2025-09-24T13:42:07","slug":"prof-apris-adu-ingin-jadikan-undana-nahkoda-perubahan-bidik-standar-internasional-dengan-kekuatan-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2025\/prof-apris-adu-ingin-jadikan-undana-nahkoda-perubahan-bidik-standar-internasional-dengan-kekuatan-lokal\/","title":{"rendered":"Prof. Apris Adu Ingin Jadikan Undana Nahkoda Perubahan, Bidik Standar Internasional dengan Kekuatan Lokal"},"content":{"rendered":"<p><strong>KUPANG<\/strong> \u2013 Mengaitkan kondisi lahan kering Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mimpi besar sebuah universitas, Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., tampil di hadapan senat dan civitas akademika untuk memaparkan visinya sebagai bakal calon Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana). Ia menegaskan, Undana harus menjadi &#8220;nahkoda yang berani memimpin perubahan dari NTT,&#8221; bukan sekadar bertahan menghadapi gelombang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Rapat Senat Terbuka yang digelar Selasa, 23 September 2025, Prof. Apris membuka pemaparannya dengan sebuah narasi yang kuat. Ia menyoroti ketekunan masyarakat NTT yang mampu bertahan di lahan kering. &#8220;Dari keterbatasan, kita belajar untuk tidak berhenti bermimpi dan bekerja. Gotong royong dan keberagaman adalah modal terbesar kita,&#8221; ujarnya, menjadikan kondisi geografis sebagai inspirasi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/SENAT-REKTOR-05494-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-48995\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dari filosofi itu, Prof. Apris memaparkan visi ambisiusnya: <strong>\u201cMenjadi Universitas Berstandar Internasional yang Berdampak dan Mendorong Transformasi Berkelanjutan Melalui Digitalisasi, Pluralisme Ilmu, Serta Inovasi Di Wilayah Lahan Kering Kepulauan.\u201d<\/strong> Ia meyakinkan bahwa visinya bukan hanya omong kosong, melainkan hasil kajian komprehensif berdasarkan data Undana, NTT, dan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Apris secara lugas mengakui tantangan yang dihadapi Undana saat ini, seperti kesenjangan dengan perguruan tinggi maju di Jawa dan lambatnya internasionalisasi. Namun di balik tantangan tersebut, ia melihat kekuatan nyata, yaitu aset yang terus bertumbuh, publikasi ilmiah yang meningkat, dan budaya transparansi yang menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mewujudkan visinya, Prof. Apris menggariskan lima misi utama. Pertama, menguatkan internasionalisasi tridharma berbasis keunggulan agromaritim dan lahan kering kepulauan. Kedua, mewujudkan transformasi digital terintegrasi melalui <strong>UNDANA One Data Platform<\/strong> yang memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data secara <em>real-time<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga memprioritaskan tata kelola PTN-BH yang akuntabel dan berbasis hasil, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing global. &#8220;Kami ingin menghadirkan generasi akademik yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di kancah global,&#8221; tegasnya. Menurutnya, ini adalah langkah nyata untuk membuka ruang bagi dosen dan tenaga kependidikan agar terus berkembang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/A7C08857-scaled-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-48994\" style=\"width:840px;height:auto\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Langkah-langkah strategis juga ia siapkan untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Program-program seperti pengentasan <em>stunting<\/em>, makan bergizi gratis, dan pemeriksaan kesehatan digagas Prof. Apris berbasis kolaborasi lintas fakultas. Mahasiswa, menurutnya, juga bisa menjadi laboratorium perubahan dengan menjalankan proyek <strong>Merdeka Belajar<\/strong> dan berperan aktif dalam masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya itu, Prof. Apris menyoroti potensi Undana menjadi pusat energi hijau-biru di Indonesia Timur. Kolaborasi lintas fakultas dapat mengelola energi panas bumi berkelanjutan sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru. Ia juga menekankan penguatan demokrasi dan kepemimpinan muda, menjadikan mahasiswa bagian dari solusi sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Apris menutup pemaparannya dengan sebuah seruan yang tegas dan penuh semangat. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk tidak hanya bertahan, tetapi mengambil peran sebagai pemimpin perubahan. &#8220;Kita bukan sekadar bertahan menghadapi gelombang, tetapi menjadi nahkoda yang berani memimpin perubahan dari NTT tanpa melepaskan akar nilai dan jati diri kita,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Visi dan strategi Prof. Apris Adu menunjukkan sebuah pendekatan kepemimpinan yang berani dan realistis, yang mengombinasikan ambisi global dengan inovasi berbasis kearifan lokal. Ini adalah tawaran untuk sebuah Undana yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat. (<em>Audc<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUPANG \u2013 Mengaitkan kondisi lahan kering Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mimpi besar sebuah universitas, Prof. Dr. Ir. Apris A.&nbsp;<a href=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2025\/prof-apris-adu-ingin-jadikan-undana-nahkoda-perubahan-bidik-standar-internasional-dengan-kekuatan-lokal\/\">&hellip;<\/a><\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":48997,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-48991","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","odd"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48991","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48991"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48991\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48997"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48991"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48991"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48991"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}