{"id":3823,"date":"2019-12-06T08:59:48","date_gmt":"2019-12-06T00:59:48","guid":{"rendered":"https:\/\/undana.ac.id\/?p=3823"},"modified":"2019-12-06T08:59:48","modified_gmt":"2019-12-06T00:59:48","slug":"dr-kumoro-beber-keluarga-bahasa-austronesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2019\/dr-kumoro-beber-keluarga-bahasa-austronesia\/","title":{"rendered":"Dr. Kumoro Beber \u201cKeluarga\u201d Bahasa Austronesia"},"content":{"rendered":"<ul>\n<li><strong>Kuliah Umum Prodi Linguistik PPs Undana<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Inisiatif Ketua Program Studi (Prodi) Linguistik, Program Pascasarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Drs.Feliks Tans,M.Pd.,Ph.D untuk menggelar kuliah umum di PPs Undana Penfui, Rabu,\u00a0 (4\/12\/2019) mendapat respon dari kalangan mahasiswa dan alumni Linguistik Undana.\u00a0 Kuliah umun dengan tema \u201cKeluarga Bahasa Austronesia dan Bahasa-bahasa daerah di Indonesia\u201d itu menghadirkan pembicara tunggal Dosen Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hendro Kumoro. Dalam paparan materinya ia memusatkan pembicaraannya pada hasil penelitian tiga linguist, yakni Dempwolff, Dyen dan P. S Bellwood.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, berbicara Bahasa Austronesia, Otto Dempwolff pada abad 19 telah mengumpulkan Bahasa Austronesia yang disebut proto melayu-polonesia. Dempwolff kemudian memperkenalkan hukum Grimm untuk merekonstruksi bunyi. \u201cHukum ini mengatakan bahwa Bahasa secara tidak kita sadari mengalami perubahan bunyi yang disebabkan oleh kekeliruannya anak-anak mengamati dan menangkap bunyi-bunyi yang terpakai oleh generasi orangtua mereka,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, dari anak-anak salah menangkap bunyi, kemudian menjadi fonem, bunyi berubah menjadi dialek, lalu menjadi Bahasa, dan terjadi kontak Bahasa kemudian ada inovasi (ada kata pungut), kata-kata kognates sampai menjadikan sebagai Bahasa serumpun. Antara Bahasa serumpun terdapat hal-hal yang mirip atau sama. Dalam karyanya, Dempwollf menentukan dan menggunakan 11 bahasa, yaitu Tagalog, Batak-Toba, Jawa, Melayu (sekarang menjadi Bahasa Indonesia), Dayak-Ngaju, Hova (Malagasy) di Madagaskar, Fiji, Sa\u2019an dari Kepulauan Melanesia, Tonga, Fatuna dan Samoa dari Kepulauan Polynesia sebagai Bahasa yang diperbandingkan . Ia melakukan penelitian berdasrkan literatur saat itu, yakni Bahasa Jawa yang ditemukannya dan satu-satunya Bahasa yang berkesinambungan dapat dilacak ke mansa-masa yang lebih tua.<\/p>\n<p>\u201cDalam Buku pertama Dempwolff pada tahun 1934 awalnya menggunakan 3 Bahasa, yakni Tagalok, Toba Batak dan Jawa. Buku keduanya tahun 1937 menghasilkan Bahasa proto Austronesia (PAN), hal ini menarik para sarjana, terutama Dyen yang menjadi muridnya kemudian menelaah kembali dan merevisinya. Semantara buku ke tiga tahun 1938 melahirkan kamus PAN sampai sekarang digunakan untuk menganalisis Bahasa Austronesia,\u201d paparnya.<\/p>\n<div id=\"attachment_3825\" style=\"width: 510px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3825\" class=\"wp-image-3825\" src=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-1024x684.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"334\" srcset=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-1024x684.jpg 1024w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-300x200.jpg 300w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-768x513.jpg 768w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-420x280.jpg 420w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-540x361.jpg 540w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-780x521.jpg 780w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-18x12.jpg 18w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964-150x100.jpg 150w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/IMG_2964.jpg 1403w\" sizes=\"auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><p id=\"caption-attachment-3825\" class=\"wp-caption-text\">Para peserta kuliah umum saat sedang mengikuti pemaparan materi.<\/p><\/div>\n<p>Ia menambahkan, Dempwolff membagi rumpun bahasa Austronesia menjadi 3 bagian, yaitu bagian Indonesia, bagian Melanesia, dan bagian Polynesia. Bahasa yang diambil sebagai contoh dari bagian Indonesia adalah Tagalok, Toba-Batak, Jawa, Melayu, Ngaju-Dayak, dan Hova (malagasi). Bahasa yang diambil sebagai contoh dari bagian Melanesia ialah bahasa Fiji, dan bahasa Sa\u2019a, sedangkan bahasa yang dipakai sebagai contoh dari bagian Polynesia ialah bahasa Tonga, Futuna dan bahasa Samoa. Alasan diambilnya bahasabahasa tersebut adalah bahasa yang diperbandingkan haruslah diambil dari bahasabahasa yang berbeda, letaknya berjauhan, dan dari anggota sub-sub rumpun yang berlainan agar rekonstruksinya betul-betul mewakili semua bahasa-bahasa yang tergabung dalam rumpun itu.<\/p>\n<p>Sementara papar Kumuro, Dyen secara genetis mengelompokan Bahasa Austronesia. Dari 500 bahasa yang digarapnya, ia mampu meneliti 303 bahasa saja dari perkiraan 4000 bahasa di dunia. Hasil penelitiannya, 58 dianggap sebagai dialek dan 245 sebagai bahasa. Dalam penelitiannya menggunakan 200 kosa kata dasar selanjutnya disebut kosa\u00a0 kata Swadesh. \u201cJika antara dua bahasa punya persamaan 70 persen lebih sama, dianggap dialek dari Bahasa yang sama. Namun jika sebaliknya dianggap dua Bahasa yang berbeda. Hal ini bersifat sementara saja,\u201d ungkapnya. Hasil perbandingan itu oleh Dyen digunakan sebagai pengelompokan Bahasa serumpun. Dari hasil perbandingan dan perhitungan semacam itu, Dyen menempatkan Bahasa-bahasa yang ia periksa itu ke dalam tingkat-tingkat sub grup yang ia beri nama subfamily, genus, cluster, hesion dan linkage. Hal itu agar klasisifikasi Bahasa dapat dibaca dengan mudah, maka dibuatlah diagramnya.<\/p>\n<p>Ia menyebut, Austronesia memiliki banyak Bahasa, karena para petani berpindah-pindah, menjelajah dari satu wilayah ke wilayah lain lalu terjadi tebang bakar. Sekitar 6000-5000 tahun lalu orang Austronesia sudah mulai menjelajah ke utara dan ke barat. 3000 tahun yang lalu sampai pasifik dan selandia baru. \u201cKita dapat mengambil kesimpulan dari gejala ini bahwa semakin sulit komunikasi antara daerah satu dengan yang lain, semakin besarlah kemungkinannya untuk timbul Bahasa baru,\u201d ungkapnya. Dyen menyebut asal-usul orang Ausronesia ditentukan oleh perbedaan-perbedaan Bahasa-bahasa. Asal-usul ialah daerah di mana terdapat banyak Bahasa dengan pebedaan yang besar. Kelompok Bahasa yang berbeda-beda tidak akan bermigrasi Bersama-sama ke daerah yang sama. Kiranya yang terjadi ialah bahwa Bahasa-bahasa itu sedikit demi sedikit menjadi berbeda di tanah asalnya.<\/p>\n<p>Dyen memilah bahasa-bahasa Austronesia pertama-tama menjadi dua kelompok, yaitu kelompok utama Melayu-Polinesia dan kelompok Irian TimurMelanesia. Selanjutnya, Dyen memilah kelompok Melayu-Polinesia kedalam tiga bagian yakni bahasa-bahasa Hesperonia, Moluccan Linkage (kelompok besar Maluku), dan Heonesia. Kelompok besar Maluku dipilah lagi menjadi kelompok Sula Bacan, Ambon Timur dan Halmahera Selatan-Irian Barat. Menurut Dyen wilayah bahasa-bahasa Austronesia meliputi Filipina, Formosa, Madagaskar dan Indonesia Barat termasuk kedalam kelompok besar Hesperonesia. Kelompok Indonesia Barat meliputi bahasa-bahasa di Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat.<\/p>\n<p>Sementara, papar dia, menurut P. S Bellwood, yang menggabungkan penemuan dan pemikiran dari cabang Lingustik, Anthropologi dan Arkeologi menyebutkan bahwa Formosa telah didiami orang Austronesia 6000 tahun yang lalu. Mereka bercocok tanam dan kesukaannya ialah menanam padi serta biji-bijian lain. Sistem pertaniannya ialah tebang bakar. Dari hasil penggalian arkeologi di goa-goa Filipina, Kalimantan, Sulawesi dan Timor, Grabah telah dipakai di daerah itu sekitar 5.500-4.500 tahun lalu. Jadi pada tahun-tahun ini orang Austronesia telah mencapai pulai-pulau di sekitar katulistiwa di Indonesia bagian timur. Kemudian mereka bergerak ke timur, ke pantai-pantai Irian Timur sampai ke kepulauan Bismarek dan Salomon.\u00a0 Penggalian Arkeologi menunjukkan bahwa peradaban gerabah berada di daerah Melanesia ini sekitar 3.500-3000 tahun yang lalu. Sekitar 500 tahun kemudian daerah-daerah di Polynesia seperti Tonga dan Samon dijamahnya. Kepulauan yang jauh seperti Hawai dan Selandia Baru baru dicapai sekitar 1000 tahun yang lal<br \/>\nu. Demikian juga daerah di Madagaskar dan sekitarnya baru dijamahnya sekitar 1000 tahun yang lalu.<\/p>\n<p>Asdir I PPs Undana, Dr. Korolus K. Medan ketika membuka kuliah umum tersebut mengapresiasi kehadiran Dr. Hendro ke PPs Undana. Menurutnya, kuliah umum tentang Keluarga Bahasa Austronesia dan Bahasa-bahasa daerah di Indonesia itu sangat urgen, karena perkembangan Bahasa Austronesia kini mengalami persoalan. Ada banyak Bahasa yang terancam punah karena kehabisan penutur. Dari sekitar 742 bahasa di Indonesia, ujarnya, ada sekitar 169 yang terancam punah, karena penuturnya semakin berkurang dari waktu ke waktu. Di Alor, NTT misalnya, ada salah satu Bahasa (Belilel) yang menyisahkan satu penutur saja.\u00a0 \u201cKarena itu, kuliah umum ini sangat penting dalam arti memberi kontribusi dan pemikiran bagaimana Bahasa daerah ke depan terutama bahasa daerah di Indonesia, menjadi alaram bagaimana pemikiran kedepan untuk pengembangan Bahasa daerah,\u201d pungkasnya.\u00a0 Hadir pada kesempatan itu, Ketua Prodi Ilmu Linguistik, Prof. Felix Tans (Guru Besar Bahasa Undana) dan sejumlah mahasiswa dan alumni prodi linguistic Undana. [rfl\/ds]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah Umum Prodi Linguistik PPs Undana Inisiatif Ketua Program Studi (Prodi) Linguistik, Program Pascasarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Drs.Feliks&nbsp;<a href=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2019\/dr-kumoro-beber-keluarga-bahasa-austronesia\/\">&hellip;<\/a><\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3824,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-3823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","odd"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3823"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3823\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}