{"id":3701,"date":"2019-10-25T16:13:02","date_gmt":"2019-10-25T08:13:02","guid":{"rendered":"https:\/\/undana.ac.id\/?p=3701"},"modified":"2019-10-25T16:13:02","modified_gmt":"2019-10-25T08:13:02","slug":"jadikan-bumi-tempat-yang-nyaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2019\/jadikan-bumi-tempat-yang-nyaman\/","title":{"rendered":"Jadikan Bumi Tempat yang Nyaman"},"content":{"rendered":"<ul>\n<li><strong>PPs Undana Seminar Internasional Pembangunan Berkelanjutan<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Program Pascasarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menggelar seminar internasional untuk kedua kalinya di Hotel Neo Aston, Jumat (25\/10\/2019\u00a0 dengan tema\u00a0 \u201cSustainable Development In Country Border Area\u201d atau Pembanguna\u00a0 Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara. Seminra tersebut menghadirkan tiga pembicara kunci yakni Prof. Singarayer Florentine (Guru Besar Federaation University Australia) Prof.Ir.Budi Guntoro, S.Pt.,M.Sc., Ph.D, dan Prof. Dr. dr. Hari Kusmanto MS.<\/p>\n<p>Direktur PPs Undana, Prof. Drs. Mangadas Lumban Gaol, M.Si, Ph.D dalam sambutannya mengatakan seminar internasional yang dilaksanakan oleh PPs Undana\u00a0 merupakan yang kedua kalinya dalam tahun ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan masih akan ada lagi satu seminar internasional sebagai kado akhir tahun 2019.<\/p>\n<p>Menurut Lumban Gaol, sebagai universitas terkemuka dan tertua\u00a0 di NTT,\u00a0 Undana kini berada pada posisi menengah secara nasional, salah satunya ditandai dengan peningkatan status perguruan tinggi Undana menjadi Pola Pengelolaan Keuangan- Badan Layanan Umum (BLU).<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3702 size-large\" src=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"682\" srcset=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-300x200.jpg 300w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-768x512.jpg 768w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-420x280.jpg 420w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-540x360.jpg 540w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-780x520.jpg 780w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-18x12.jpg 18w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396-150x100.jpg 150w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2396.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/>Seminar internasional yang digelar, selain memberi dampak bagi keberlanjutan pembangunan lingkungan, ia juga berharap seminar itu sebagai momentum bagi para dosen maupun mahasiswa program pascasarjana\u00a0 dalam mengasah dan meningkatkan kemampuan berbahasa ingggris. \u201cSaya senang semua peserta bisa hadir, karena itu, mari kita semua menggunakan dan belajar Bahasa Inggris,\u201d ujarnya dalam bahasa Inggris. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para pembicara kunci yang hadir pada saat itu. Ia berharap para peserta yang kebanyakan mahasiswa S2 maupun S3 agar dapat mengikuti seminar tersebut dengan baik.<\/p>\n<p>Sementara Prof. Singarayer Florentine dalam paparannya berbahasa Inggris menyebut, tantangan pembangunan berkelanjutan, diantaranya adalah perbubahan iklim secara global, kebakaran hutan, kekeringan, kemiskinan dan lainnya. Perubahan iklim, jelas dia, berimbas pada 1.000 kematian dan manusia kehilangan 300 miliar dolar Amerika per tahun. Sementara terdapat 5,4 miliar anak di seluruh dunia mati dalam kondisi pengobatan maupun pencegahan. Karena itu, tujuan pembanunan millennium yang dilakuka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu dilaksanakan oleh semua negara di dunia untuk menyelamatkan lingkungan dan manusia.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, sejak tahun 2016, tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Pembangunan Berkelanjutan 2015\u20132030 secara resmi menggantikan tujuan Pembangunan Millennium (MDGs) 2000\u20132015. SDGs berisi seperangkat tujuan transformatif yang disepakati dan berlaku bagi seluruh bangsa tanpa terkecuali. SDGs berisi 17 Tujuan. Salah satu Tujuan SDGs adalah mengatur tata cara dan prosedur masyarakat yang damai tanpa kekerasan, nondiskriminasi, partisipasi, tata pemerintahan yang terbuka serta kerja sama kemitraan multi pihak.<\/p>\n<p>Guru besar asal Federation University Australia itu menyebut 17 SDGs, yakni: Pertama, no poverty (tanpa kemiskinan) yaitu tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia. Kedua, zero hunger atau tanpa kelaparan, dimana tidak ada lagi kelaparan mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan. Ketiga, good health and well-being, artinya kesehatan yang baik dan kesejahteraan.Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3703 size-large\" src=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"682\" srcset=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-300x200.jpg 300w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-768x512.jpg 768w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-420x280.jpg 420w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-540x360.jpg 540w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-780x520.jpg 780w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-18x12.jpg 18w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410-150x100.jpg 150w, https:\/\/backup.undana.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_2410.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/>Keempat, quality education, artinya,menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang. Kelima, gender quality atau kesetaraan gender, yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan. Keenam, clean water and sanitation atau air bersih dan sanitasi, yaitu menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang. Ketujuh, affordable and cleand energy atau energi bersih dan terjangkau, yaitu menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang. Selanjutnya,<\/p>\n<p>Kedelapan, decent work and economic growth atau pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak, yaitu mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, lapangan kerja yang produktif serta pekerjaan yang layak untuk semua orang. Kesembilan, industry, innovation, and infrastructure atau industry, inovasi dan infrastructure dimana perlu pembangunan infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang berkelanjutan serta mendorong inovasi. Kesepuluh, reduced inewualities atau mengurangi kesenjangan, yaitu dengan mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara maupun di antara negara-negara di dunia.<\/p>\n<p>Kesebelas, sustainable cities and communities atau keberlanjutan kota dan komunitas dimana pembangunan kota serta pemukiman yang berkualitas, aman dan bekelanjutan. Keduabelas, responsible consumption and production atau konsumsi dan produksi bertanggungjawab, yaktu menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola produksi. Ketigabelas, climate action atau aksi terhadap iklim, dimana negara bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Keempatbelas, life bellow water atau kehidupan bawah laut dimana negara ikut melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk\u00a0 perkembangan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kelimabelas, life on land atau kehidupan di darat, dimana negara melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah. Keenambelas, peace, justice and strong institution atau institusi peradilan yang kuat dan perdamaian, dimana negara ikut meningkatkan perdamaian termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan. Dan tujubelas, partnership for the goals atau kemitraan untuk mencapai tujuan, diman negara ikut memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan, kata Prof.Singarayer yang saat itu didampingi moderator, Prof. Felixs Tans.<\/p>\n<p>Untuk mewujudkan 17 tujuan itu, ia\u00a0 mengajak para generasi muda di Indonesia agar terlibat dalam pembangunan bangsa dan negara \u201cKita (generasi muda) perlu memberitahu kepada pemerintah ini produk dan usaha kita menjaga lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, ini industry kita, kita yakinkan kepada para pemimpin untuk ikut mewujudkan kehidupan bumi yang aman dan nyaman di masa yang akan datang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pembicara lain yang ikut memberikan materi dalam seminar itu diantaranya adalah Ni Made Utami Dwipayanti, ST., Menv., Ph.D, Dr. Kotan Y. Stevanus, SH., M.Hum, para guru besar Undana dan sejumlah parsipan yang lain. Turut hadir pada kesempatan itu, Wakapolda NTT. Brigjen Pol.Drs. Jhony Asadoma,M.Hum. [rfl\/ds]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PPs Undana Seminar Internasional Pembangunan Berkelanjutan Program Pascasarjana (PPs) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menggelar seminar internasional untuk kedua kalinya&nbsp;<a href=\"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/2019\/jadikan-bumi-tempat-yang-nyaman\/\">&hellip;<\/a><\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3704,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-3701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","odd"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3704"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/backup.undana.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}