(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Bank Sampah Undana: Pilar Baru Gerakan Kampus Hijau yang Dikelola DWP Undana

KUPANG – Keberadaan sebuah bank tidak selalu identik dengan transaksi finansial semata. Di Universitas Nusa Cendana (Undana), sebuah bank dengan konsep yang berbeda telah tumbuh subur, berkat inisiatif dan dedikasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undana: Bank Sampah Undana. Bukan sekadar tempat menabung uang, bank ini menjadi pilar utama dalam mewujudkan kampus yang bersih, bebas plastik, dan berkelanjutan, sekaligus mengedukasi civitas akademika tentang nilai ekonomi sampah.

Bank Sampah Undana lahir sebagai respons konkret terhadap isu lingkungan yang semakin mendesak, khususnya pengelolaan limbah plastik. Gagasan ini dimatangkan setelah DWP Undana bersama Undana seusai menggelar “Sosialisasi Pengelolaan Limbah Sampah Plastik dan Pelatihan Penggunaan Software Manajemen Keuangan pada Kelompok Bank Sampah DWP Undana” beberapa pekan lalu. Sosialisasi ini bukan hanya seremonial, melainkan fondasi penting yang membekali para pengelola dan calon nasabah dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.

Operasional Bank Sampah Undana

Mekanismenya cukup sederhana namun efektif. Setiap Jumat, mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WITA, Sekretariat DWP Undana yang berlokasi strategis di samping Gedung ICT Centre berubah menjadi pusat aktivitas. Di sinilah sampah-sampah, khususnya limbah plastik yang telah dipilah oleh mahasiswa, staf, dosen, hingga masyarakat sekitar kampus, dibawa dan diserahkan. Ini adalah wujud nyata dari aksi gotong royong yang menjadi ciri khas Undana.

Petugas Bank Sampah, yang sebagian besar merupakan anggota DWP Undana, dengan teliti akan menimbang setiap jenis sampah yang disetor. Botol plastik bekas, kemasan sachet, hingga kertas-kertas bekas dipilah dan ditimbang satu per satu. Berat setiap jenis sampah dicatat secara detail dan diinput ke dalam sistem tabungan menggunakan software manajemen keuangan yang telah dilatih. Melalui pencatatan ini, setiap individu atau kelompok yang menyerahkan sampah akan memiliki saldo awal di rekening Bank Sampah mereka, mirip seperti menabung di bank konvensional.

Dampaknya sangat signifikan dan multifaset. Pertama, secara lingkungan, Bank Sampah Undana berperan aktif mengurangi timbunan sampah plastik di lingkungan kampus dan sekitarnya. Sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai, kini diubah menjadi aset yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini secara langsung berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang lebih hijau dan sehat.

Kedua, secara ekonomi, Bank Sampah ini menciptakan insentif bagi warga kampus untuk berpartisipasi aktif. Setiap kilogram sampah plastik yang disetor tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga menambah saldo tabungan nasabah. Ini memberikan nilai tambah dan motivasi finansial dari setiap upaya peduli lingkungan, mengubah paradigma bahwa mengelola sampah adalah beban.

Ketua DWP Undana, Hembang Murni Pancasilawati-Sanam, menjelaskan bahwa Bank Sampah ini adalah wujud nyata komitmen DWP Undana dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Ini bukan hanya tentang mengumpulkan sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa tanggung jawab kebersihan adalah milik kita bersama dan sampah memiliki nilai ekonomis,” ujarnya. Keberadaan Bank Sampah ini menjadi bukti bahwa DWP Undana tidak hanya bergerak di bidang sosial dan kekeluargaan, tetapi juga aktif menjadi garda terdepan dalam isu-isu keberlanjutan.

Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc., secara konsisten mendukung inisiatif ini. Menurutnya, Bank Sampah Undana adalah cerminan nilai-nilai karakter yang dijunjung tinggi oleh Undana: tanggung jawab, kepedulian, dan kolaborasi. “Kampus kita harus menjadi laboratorium etika dan aksi nyata, bukan hanya tempat belajar teoritis,” tegas Rektor, menggarisbawahi peran Bank Sampah sebagai sarana edukasi praktis yang berdampak langsung pada perubahan perilaku positif civitas akademika.

Antusiasme civitas akademika terhadap Bank Sampah ini terlihat jelas dari partisipasi aktif mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam menyetor sampah dan mengikuti aksi bersih-bersih kampus secara gotong royong. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang diselingi insentif ekonomi mampu mendorong perubahan perilaku yang positif dan berkelanjutan. Bank Sampah Undana telah berhasil mengubah persepsi sampah dari masalah menjadi potensi, dari limbah menjadi tabungan yang bermanfaat.

Pada akhirnya, Bank Sampah Undana yang dikelola DWP Undana bukan sekadar fasilitas pengumpulan sampah. Ia adalah sebuah ekosistem mikro yang membuktikan bahwa dengan kolaborasi, edukasi, dan inovasi, permasalahan lingkungan dapat diatasi secara proaktif. Ini adalah langkah maju bagi Undana dalam mencapai visi sebagai kampus hijau yang menjadi teladan dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. Bank Sampah Undana adalah investasi jangka panjang untuk masa depan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.(Iyl)

Comments are closed.
Archives