KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) bersama Pos Kupang kembali menggelar UNDANA Talk musim kedua, episode 8, yang disiarkan langsung melalui YouTube pada Rabu (1/10/2025). Mengangkat tema kritis, “Bukan Cuma Uang! Strategi Jitu Pendidikan Kedokteran Mencetak Dokter Muda yang Tahan Banting dan Betah Mengabdi,” program ini menghadirkan Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed., Ketua Tim Health Promoting University (HPU) Undana.
Dalam diskusi tersebut, Dr. Nicholas menegaskan bahwa menjadi dokter bukanlah sekadar profesi pencari nafkah, melainkan panggilan hati untuk melayani masyarakat.
“Idealnya, menjadi dokter itu ya kita melayani masyarakat. Tidak boleh membedakan pasien kaya atau miskin, semua harus dilayani dengan baik. Dokter adalah panutan masyarakat,” ungkapnya.

Pengalaman Lapangan Kunci Pengabdian
Dr. Nicholas menceritakan pengalamannya sendiri, yang berhasil bertahan 18 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT), meski awalnya tidak pernah berniat datang ke daerah ini. Ia menyimpulkan, uang saja tidak cukup untuk membuat seorang dokter bertahan; harus ada makna baru yang ditemukan dalam pengabdian.
Menurutnya, pendidikan kedokteran perlu membekali mahasiswa dengan pengalaman langsung di lapangan, jauh dari fasilitas kota besar. “Mahasiswa harus dilatih mencari makna dari pengalaman mereka sehari-hari. Pengalaman turun ke desa, melihat keterbatasan, itu membuat mereka lebih peka dan mengerti arti pengabdian,” jelasnya.
Fakultas Kedokteran Undana dinilai sudah mulai mengarah ke strategi ini melalui program rotasi di Maumere, Soe, hingga Puskesmas. Namun, upaya tersebut memerlukan dukungan besar dari pemerintah daerah (Pemda).
Dukungan Konsisten Pemerintah Daerah Diperlukan
Dr. Nicholas mengingatkan Pemda agar konsisten memberikan dukungan jika serius ingin memenuhi kebutuhan dokter di daerah, tidak hanya fokus pada insentif. Ia mencontohkan strategi beasiswa dengan ikatan kerja yang pernah dilakukan Undana di awal pendirian FK.

“Kalau Pemda serius mau memenuhi kebutuhan dokter, jangan hanya berhenti di insentif. Harus ada pembekalan, beasiswa, dan strategi agar dokter lokal kembali dan bertahan di daerah,” tegasnya.
Menutup diskusi, ia menitip pesan kepada mahasiswa kedokteran agar bijak memilih teladan dan menjaga kesehatan diri sendiri (self-care). “Kita belajar ilmu untuk memperpanjang hidup orang. Tapi kalau kita tidak menerapkan ilmu itu pada diri sendiri dan mati muda, itu konyol,” pungkasnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa tantangan tenaga kesehatan di NTT bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas hati dan kesiapan pengabdian. Pendidikan kedokteran ditantang untuk menghasilkan dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga tahan banting dan memiliki komitmen tinggi untuk melayani masyarakat di daerah terpencil. (Moi)
