(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Undana Kian Kokoh: Perkuat Tata Kelola Lewat Sertifikasi Manajemen Resiko

Kupang – Universitas Nusa Cendana (Undana) semakin memantapkan langkahnya menuju good university governance dengan mendalami tata kelola manajemen risiko berstandar internasional. Melalui Pelatihan Sertifikasi Manajemen Risiko yang bekerja sama dengan PT. Hutama Hanriz Indonesia dan LSP-PM (Lembaga Sertifikasi Profesi Penilai Manajemen), Undana membekali civitas akademika dengan pemahaman mendalam tentang standar ISO 31000:2018 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

Kegiatan penting ini dilaksanakan di Flamboyan Meeting Room, Swiss-Belcourt Hotel, Kupang. Para peserta, yang terdiri dari perwakilan unit kerja Undana, antusias mengikuti setiap sesi yang dirancang untuk memperkuat fondasi manajemen risiko di lingkungan perguruan tinggi.

Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Prof. Dr. Chaterina Agusta Paulus, S.Pi, M.Si., CRA., CRP., CPRM., seorang pakar manajemen risiko bersertifikasi nasional dan internasional. Kehadiran beliau memastikan materi yang disampaikan tidak hanya relevan tetapi juga aplikatif, menjembatani teori dengan praktik terbaik.

Fokus materi pelatihan ini adalah krusialnya pengintegrasian manajemen risiko dalam struktur tata kelola organisasi. Dilanjutkan setelah istirahat siang, pembahasan bergeser pada arsitektur manajemen risiko, meliputi prinsip, kerangka kerja, serta proses identifikasi dan mitigasi risiko yang didasarkan pada regulasi ISO dan PP 60 Tahun 2008. Pembahasan ini sangat aplikatif karena langsung dikaitkan dengan kebutuhan unit-unit kerja di lingkungan Undana, baik akademik maupun administratif.

Pelatihan berlangsung interaktif dengan penyampaian materi, studi kasus, serta skema arsitektur risiko. Pada sesi akhir, diskusi terbuka antara peserta dan narasumber berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari penyusunan risk register, peran pimpinan dalam pengendalian risiko, hingga kendala umum dalam menerapkan sistem risiko berbasis standar internasional. Ini menunjukkan tingkat partisipasi dan pemahaman peserta yang tinggi.

Ketua SPI Universitas Nusa Cendana, Ir. Yohanes Umbu L. Sobang, M.Si., CRA., CRP., CRMP., menegaskan bahwa pelatihan ini diarahkan untuk memastikan implementasi nyata di seluruh unit kerja. “Strategi dalam memastikan hasil dari workshop ini benar-benar diimplementasikan, kita harapkan setiap unit membentuk unit pengelola resikonya di tingkat Lembaga Fakultas, kemudian bisa membuat daftar risiko, kemudian bisa melakukan analisis risiko, mitigasinya sehingga bisa diimplementasikan,” ujarnya.

Pentingnya maturitas manajemen risiko sebagai bagian dari transformasi kelembagaan di perguruan tinggi juga ditekankan oleh narasumber lain, Dr. Agus Rahman A., MM., M.Ak., MPM., MMC., MQM., MFP., MIFA., CSRS., CSRA., CIMA., CRP., CHRA., CRMP., CFRM., CDMP., CIISA., CBAP., CSBA., CILA., CFA., CIFRS., CRMA., CIPM., CWM., CFP. Menurutnya, penguatan manajemen risiko bukan hanya soal administrasi, tetapi bagian dari visi besar Undana menjadi universitas yang siap bersaing dan bertanggung jawab secara tata kelola. “Maturitas Manajemen Risiko sangat penting bagi Perguruan Tinggi, yang pertama sebagai salah satu syarat untuk menjadi PTN-BH, yang kedua aman kalau suatu saat diinspeksi serta dinilai atau dievaluasi oleh Irjen Dikti atau BPKP, dan saya yakin Undana akan lebih siap dari kampus-kampus yang lain,” tambahnya.

Prof. Dr. Witarsa, M.Si., CRA., CRP., CFrA., CPRM., CFA., CFP., yang turut diwawancarai, menyoroti bahwa kepatuhan institusional dan pembentukan struktur manajemen risiko yang kuat menjadi prioritas utama bagi Badan Layanan Umum (BLU) seperti Undana. “Kegiatan ini menjadi sangat penting, yang pertama untuk mengimplementasikan kepatuhan. Kedua, pimpinan BLU wajib membangun dan melaksanakan program manajemen risiko secara terpadu,” jelasnya. Pernyataan ini mempertegas posisi strategis Satuan Pengawas Internal (SPI) di lingkungan perguruan tinggi sebagai aktor penting dalam mengawal implementasi sistem manajemen risiko, apabila belum terbentuk unit kerja khusus.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, SPI Undana berkomitmen untuk menyusun mekanisme pendampingan dan monitoring secara bertahap kepada unit-unit. Hasil pelatihan ini juga akan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan dan laporan kinerja tahunan sebagai bagian dari penilaian akuntabilitas unit kerja. Dengan demikian, pelatihan ini bukan hanya menambah wawasan peserta, melainkan juga mempertegas mandat strategis Undana untuk bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang tunduk pada prinsip tata kelola modern.

Keberhasilan program ini tidak akan diukur dari jumlah sertifikat yang dibagikan, melainkan pada seberapa cepat dan efektif Peta Risiko Unit terintegrasi ke dalam perencanaan, anggaran, serta indikator kinerja, hingga akhirnya memberi dampak nyata pada mutu akademik, layanan, dan reputasi Undana. Dengan komitmen kolektif pimpinan, pendampingan berkelanjutan dari SPI, serta budaya sadar risiko yang terus dipupuk, Undana bergerak semakin dekat menuju status PTN-BH dan siap berdiri sejajar, bahkan melampaui kampus-kampus terkemuka lainnya di tanah air.(Iyl)

Comments are closed.
Archives