BELU, NTT – Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Pemerintah Kabupaten Belu secara resmi memperbarui kerja sama strategis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Rabu, 11 Juni 2025. Acara penting ini berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok, Kabupaten Belu, menandai babak baru kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan di wilayah perbatasan.
Penandatanganan MoU ini merupakan langkah konkret implementasi program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang mengusung tagline “Diktisaintek Berdampak”. Program ini menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam berkontribusi nyata untuk memajukan ekonomi, sosial, dan budaya demi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

MoU tersebut diteken langsung oleh Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc., dan Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H. Prosesi penandatanganan ini disaksikan oleh jajaran Pimpinan Perangkat Daerah se-Kabupaten Belu, para Camat, Lurah, serta Kepala Desa di seluruh wilayah Belu. Turut hadir pula sejumlah pimpinan Undana, di antaranya Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dr. Herry Z. Kotta, S.T., M.T., serta Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Yefry Cornianto Adoe, S.E.
Rektor Undana, Prof. Maxs U. E. Sanam, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan kontribusi Undana dalam pembangunan daerah. Beliau menyoroti kemajuan pesat Undana dalam tiga tahun terakhir, ditandai dengan perolehan akreditasi Unggul, peningkatan signifikan jumlah Guru Besar yang mencapai hampir 40 Profesor, 13 program studi berakreditasi Unggul, serta 8 program studi yang telah terakreditasi internasional.
Prof. Maxs juga mengungkapkan kapabilitas Undana untuk menyelenggarakan pendidikan pascasarjana (S2) secara blending (daring dan luring). Inovasi ini memungkinkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Belu untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus terkendala jarak, sekaligus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ini menjadi solusi cerdas untuk peningkatan kualitas SDM di daerah.

Lebih lanjut, Prof. Maxs menyampaikan visi masa depan yang ambisius. Melalui program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tidak menutup kemungkinan satu atau dua program studi Undana akan ditempatkan di Belu, tepatnya di Atambua. “Ke depannya kita bisa PJJ program studi, jadi akan ada satu, dua program studi Undana yang ditempatkan di Belu, jadi ini bisa seperti kampus Undana mini di Atambua,” ujar Rektor penuh semangat.
Pada kesempatan itu, Rektor Undana menekankan bahwa meskipun dokumen MoU sangat penting, namun yang lebih esensial adalah bagaimana aksi nyata dalam pengaplikasian MoU tersebut dapat terwujud. Komitmen ini menunjukkan keseriusan Undana untuk tidak hanya berhenti pada formalitas, tetapi juga pada implementasi konkret yang berdampak positif bagi masyarakat.
Sementara itu, Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas tindak lanjut dari pembicaraan-pembicaraan sebelumnya saat kunjungannya ke Undana. Bupati Lay berharap agar Undana dapat memiliki kampus di Belu, sehingga lulusan perguruan tinggi dapat terserap menjadi tenaga kerja di daerah sendiri.
“Tadi disampaikan akan ada kalau bisa Undana juga ada kampus di Belu, sesuai dengan visi kita bersama melihat Kabupaten Belu sebagai kabupaten perbatasan penting adanya pendidikan tinggi di Kabupaten Belu terutama pendidikan vokasi,” ungkap Bupati Lay, menegaskan urgensi kehadiran pendidikan tinggi di wilayah perbatasan.

Pembaruan MoU ini membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Belu, khususnya melalui akses pendidikan tinggi yang lebih mudah. Dengan potensi “kampus Undana mini” di Atambua dan program PJJ, masyarakat Belu, termasuk ASN, dapat meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya tanpa perlu merantau. Hal ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan di Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan yang strategis (Ing)




