(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Siapkan Generasi Emas Migas: Undana Jawab Tantangan Hilirisasi & Wujudkan Asta Cita Prabowo-Gibran

KUPANG – Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) mengambil langkah strategis dalam mendukung visi hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam pemerintah Prabowo-Gibran. Pada Rabu, 11 Juni 2025, FST Undana berkolaborasi dengan Komunitas Migas Indonesia (KMI) Chapter Rusia dan Eropa Timur, serta Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Komisariat Rusia, Kaspia, dan Eropa Timur, menyelenggarakan diskusi dan jaring aspirasi bertajuk “Mempersiapkan Generasi Emas Migas untuk Wujudkan Hilirisasi dan Asta Cita”. Acara ini berlangsung di Aula Rektorat Undana.

Diskusi ini menghadirkan M. Iksan Kiat, B.Eng., M.Eng., M.Sc., seorang Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bidang Percepatan Peningkatan Produksi, Manajemen Risiko, dan Percepatan Investasi Industri Migas, sebagai pembicara tunggal. Forum ini menjadi ruang krusial untuk membangun sinergi antara dunia akademis dan industri, khususnya dalam pengembangan sektor energi nasional. “Ini tantangan yang sangat besar, bukan hanya sebagai orang teknik tapi juga sebagai masyarakat. Namun apa pun itu, harus kita hadapi dan berikan solusi terbaik karena itu yang menjadi tujuan utama kita,” tegas Dr. Dra. Maria Agustina Kleden, M.Sc., Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan FST Undana, saat membuka acara.

Dalam paparannya, Iksan Kiat menekankan bahwa pembangunan industri migas nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing memerlukan fondasi kuat. Fondasi ini mencakup penerapan empat pilar kehidupan berbangsa: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, serta sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Analisis global, lokal, dan internal juga berperan penting untuk memperkuat ketahanan nasional. “Kalau kita berbicara tentang swasembada energi, ujungnya adalah untuk menguatkan ketahanan nasional, jadi apa pun yang kita lakukan adalah untuk ketahanan nasional,” ujarnya. Ia juga menambahkan pentingnya memahami tren global dan potensi kearifan lokal. “Bagaimana pun kita perlu tahu tren global seperti apa? Selain itu, apa kearifan lokal kita di NTT?” lanjutnya, memberi contoh potensi energi angin di Sumba.

Iksan Kiat juga membeberkan sejumlah tantangan dalam hilirisasi sektor migas nasional. Ia menyoroti keterlambatan penerapan teknologi migas sekitar 14 tahun dibandingkan negara lain, penurunan produksi Pertamina, kualitas SDM yang belum optimal, geopolitik yang tidak menentu, keterbatasan infrastruktur, minimnya integrasi data antar-sektor, buruknya karakter, birokrasi yang berbelit, dan kurangnya penerapan prinsip Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan (K3L).

Ia menegaskan bahwa akar penyebab dari berbagai tantangan tersebut adalah ketiadaan nasionalisme. “Tanpa nasionalisme, orang pintar bisa menjual negara. Tanpa nasionalisme, orang berkuasa bisa menindas yang lemah,” tuturnya dengan nada prihatin.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Iksan Kiat menawarkan langkah strategis. Ia mengusulkan pembentukan tim kerja octahelix untuk membangun industri energi yang berdaulat, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Model octahelix ini melibatkan delapan pihak: akademisi, pengusaha, ahli media dan informasi, investor, regulator, praktisi migas penunjang, korporat/profesional, serta aktivis organisasi/tokoh masyarakat. “Menurut saya, kalau orang asing membuat pentahelix, kita bikin octahelix. Jadi satu pilar harus didukung oleh berbagai pihak baru bisa kuat,” ungkapnya.

Sebagai penutup materinya, Iksan Kiat menggarisbawahi bahwa pembangunan industri yang kokoh memerlukan keterlibatan rakyat semesta. Keterlibatan ini mencakup integrasi lintas usia, sektor, peran, dan level geografis.

Melalui diskusi dan jaring aspirasi ini, Undana menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam melahirkan generasi emas migas yang siap menghadapi kompleksitas tantangan hilirisasi. Harapannya, mereka mampu mewujudkan industri migas yang berdaulat, berkelanjutan, dan berdaya saing, sejalan dengan visi Asta Cita pemerintahan saat ini (fnt)

Comments are closed.
Archives