KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menunjukkan eksistensinya dalam upaya pencegahan kekerasan dan perlindungan hak-hak masyarakat. Komitmen kuat ini ditegaskan melalui partisipasi aktif Undana dalam lanjutan kampanye “Rise and Speak : Berani Bicara, Selamatkan Sesama”, bertempat di Harper Hotel Kupang, Rabu (21/05/2025). Setelah sukses menggelar kampanye pencegahan Tindak Pidana dan Perdagangan Orang (TPPO), pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-117 di Aula Rektorat Undana, rangkaian kampanye ini berlanjut dengan fokus yang lebih luas yaitu kekerasan pada perempuan dan anak.
Kampanye hari kedua ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama. Perwakilan Undana diwakili oleh Dr. Simplexius Asa, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum Undana, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas PPKS Undana dan Andriyani Emilia Lay, S.Psi, M.A., seorang Psikolog sekaligus Dosen Program Studi Bimbingan Konseling FKIP. Mereka bersinergi dengan berbagai pihak lain, termasuk Direktorat TPPA dan TPPO Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi NTT, Forum Silaturahmi Kerajaan Nusantara, hingga Sinode GMIT.


Salah satu agenda penting dalam kampanye ini adalah sesi talkshow bertema “Melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Kekerasan pada Anak”, yang dipandu oleh Ollien Manggol, S.KM.,MPA. Dalam sesi ini, Andriyani Emilia Lay, S.Psi., M.A., Psikolog, tampil bersama empat narasumber lainnya. Ia membawakan materi berjudul “Lindungi Generasi Masa Depan: Bersama Cegah Tindak Kekerasan pada Perempuan dan Anak.”
Sebagai seorang psikolog dan akademisi, Andriyani Emilia Lay mengupas tuntas berbagai praktik berisiko yang berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Ia membahas isu-isu krusial seperti penelantaran, pengabaian emosional, fenomena fatherless, hingga pola disiplin yang tidak mendukung perkembangan positif. Tak hanya itu, ia juga memaparkan strategi pencegahan kekerasan dan menekankan pentingnya mendorong anak untuk berani bersuara. Pesan inspiratif yang disampaikan Andriyani adalah, “Jika perilaku kekerasan dapat dipelajari, maka perilaku empatik dan aman pun juga dapat dipelajari.”
Partisipasi mahasiswa Undana dalam sesi talkshow ini begitu membanggakan. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi, aktif mengajukan pertanyaan, dan berdialog langsung dengan narasumber. Keterlibatan ini menjadi bukti nyata bahwa kampanye berhasil menjangkau dan membangun kesadaran di kalangan generasi muda, yang merupakan ujung tombak perubahan sosial.
Pencegahan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Psikolog Andriyani Emilia Lay memberikan tanggapan positif terhadap kampanye ini, menegaskan bahwa kegiatan ini memegang peran krusial dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya dalam hal perlindungan anak. “Ini adalah kegiatan yang sangat positif. Pencegahan merupakan langkah penting yang harus terus kita lakukan, karena lebih baik mencegah daripada mengobati. Kegiatan hari ini merupakan bagian dari upaya preventif yang dilakukan oleh Polri dan pihak terkait dalam membantu memberikan perlindungan kepada anak-anak di masyarakat secara luas,” ujarnya usai kegiatan.
Ia juga menyampaikan harapannya agar mahasiswa Undana semakin sadar akan pentingnya perlindungan diri sendiri dan sesama. “Perlindungan itu harus menjadi bagian dari nilai diri kita. Mahasiswa harus mampu melindungi diri sendiri dan juga peka terhadap keselamatan orang lain. Ini adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Andriyani berharap kampanye pembangunan kesadaran dan kepedulian seperti “Rise and Speak” ini akan terus berlanjut dan tidak berhenti sampai di sini. “Harapan saya kampanye membangun kesadaran dan kepedulian harus terus dilakukan, jadi tidak hanya berhenti pada hari ini saja, tapi juga bisa terus dilakukan baik di institusi, baik itu di Undana maupun di tingkat terbesar sampai terkecil komunitas masyarakat,” pungkasnya. Kampanye ini hadir di Kupang untuk mengajak masyarakat memulai budaya baru dengan keberanian bersuara, melawan tekanan sosial, menyatukan langkah dalam menyelamatkan sesama, dan bergerak bersama menuju perubahan.

