KUPANG – Dosen muda Universitas Nusa Cendana (Undana), Redi Kristian Pingak, S.Si., M.Sc., Ph.D (cand.), dari Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknik, berhasil mengharumkan nama kampus di kancah global. Redy masuk dalam daftar bergengsi World’s Top 2 Percent Scientist 2025 yang dirilis oleh Stanford University bekerja sama dengan Elsevier.
Daftar tersebut memuat dua persen ilmuwan dunia dengan dampak publikasi tertinggi, yang dinilai berdasarkan jumlah sitasi, indeks-h, dan kolaborasi ilmiah lintas negara dari basis data Scopus.
Redy, yang sejak 2021 merintis penelitian di bidang teori dan komputasi material, menyebut capaian ini sebagai anugerah sekaligus hasil kerja kolektif dari tim riset lintas institusi dalam dan luar negeri. Dukungan dana dari Undana dan Kementerian Ristekdikti menjadi pijakan awal bagi timnya untuk menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi.
“Puji Tuhan, ini bukan hanya prestasi pribadi, melainkan hasil kerja sama tim. Saya belajar bahwa kolaborasi menjadi kunci untuk menghasilkan output riset yang maksimal,” ujarnya.
Menegaskan Kapasitas Riset Undana di Kancah Global
Sebagai dosen Undana, Redy menilai penghargaan ini sekaligus menegaskan bahwa Undana memiliki kapasitas riset yang mampu bersaing secara global. Pengakuan tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi sivitas akademika untuk lebih aktif membangun jejaring penelitian.
“Harapannya, semakin banyak tim riset terbentuk di Undana dan mencapai prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang,” tambahnya.
Meski baru pertama kali meraih penghargaan ini, Redy berkomitmen untuk menjaga konsistensi agar capaian tersebut tidak berhenti pada seremoni. Saat ini, Redy tengah menempuh studi doktoral (PhD) di The University of Sydney, Australia, dengan fokus penelitian yang masih berhubungan erat dengan tema yang digarap bersama timnya.
Riset Energi Bersih dan Dampak bagi Masyarakat NTT

Riset yang digeluti Redy berfokus pada pengembangan material baru yang ramah lingkungan dan mampu mengonversi energi matahari menjadi hidrogen serta listrik. Topik ini sangat relevan dengan isu energi global dan memiliki potensi besar untuk kontribusi terhadap pengembangan teknologi energi bersih.
“Dampaknya mungkin belum langsung dirasakan masyarakat sekarang, tetapi kami pastikan hasil penelitian kami akan bermanfaat di masa mendatang, termasuk bagi masyarakat NTT,” ujarnya.
Redy menegaskan bahwa setiap riset seharusnya bermuara pada manfaat bagi masyarakat. Baginya, penghargaan ini adalah dorongan untuk menghasilkan karya yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan.
Terakhir, Redy menyampaikan pesan kepada generasi muda peneliti Undana untuk tidak takut memulai, berani gagal, dan mau belajar dari orang lain. Capaiannya membuktikan bahwa peneliti dari daerah mampu menembus panggung ilmiah dunia melalui konsistensi dan kolaborasi.
Penghargaan ini menjadi pengingat bagi Undana untuk terus memperkuat dukungan riset yang berkelanjutan, baik dari sisi pendanaan, kebijakan, maupun jejaring internasional. (Iyl)
