KUPANG – Pengalaman belajar di luar ruang kelas menjadi prioritas bagi mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana). Sejak awal September hingga Desember 2025, sejumlah mahasiswa Undana melaksanakan program Magang Merdeka di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bengkel APPeK. Di sana, mereka tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam dan memberikan kontribusi sosial langsung kepada masyarakat.
Maria Elisabeth Paulin Sereh, atau Elin, pendamping lapangan dari Bengkel APPeK, menjelaskan bahwa para mahasiswa magang dilibatkan dalam seluruh aktivitas lembaga. Mereka tidak hanya mengurus administrasi, tetapi juga terlibat dalam perencanaan kegiatan hingga pendampingan langsung di lapangan, termasuk dalam forum-forum inklusif yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

“Harapannya, ilmu yang mereka dapat bisa dipakai ketika benar-benar terjun ke masyarakat,” ujar Elin, menegaskan bahwa pengalaman ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang relevan.
Dua mahasiswa dari Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana, Kiren Aurelia Tarapanjang dan Vilan Klarista Inur, berbagi cerita berkesan mereka. Kiren mengaku pengalaman paling berkesan adalah ketika terlibat dalam kegiatan Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Desa Tuapukan pada 9 September 2025.


“Kelompok Musrenbang ini unik karena melibatkan pemuda, orang dewasa, lansia, bahkan masyarakat disabilitas,” ungkap Kiren. Dari kegiatan ini, ia belajar bagaimana semua kelompok masyarakat dapat duduk bersama untuk merumuskan kebutuhan dan program kerja demi pembangunan desa.
Pengalaman tersebut juga membuka wawasan Kiren tentang mekanisme penganggaran dan rancangan belanja desa hingga tingkat nasional. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuannya, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Sementara itu, Vilan menilai pengalaman lapangan telah memperkaya keterampilan sekaligus menanamkan kepekaan sosialnya. “Kami mendata usulan warga dari berbagai bidang, mulai dari pertanian, peternakan, kesehatan, hingga ekonomi,” jelasnya.
Vilan mengaku, kegiatan ini mengajarinya untuk melayani masyarakat dengan latar belakang berbeda, termasuk penyandang disabilitas. Selain itu, ia juga mendapatkan pelatihan praktis dalam membuat berita dan mengikuti diskusi kebijakan, yang relevan dengan bidang studinya.

Selain Pra Musrenbang, mahasiswa magang juga berpartisipasi dalam berbagai aktivitas lain seperti literasi, diskusi peraturan, hingga investigasi lapangan. Seluruh pengalaman ini tidak hanya menambah pengetahuan akademis, tetapi juga memberikan keterampilan praktis yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri.
Pengalaman magang di Bengkel APPeK menjadi bukti nyata bahwa program Magang Merdeka mampu menjembatani dunia kampus dengan dunia kerja. Mahasiswa Undana tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga memperoleh pemahaman baru tentang dunia kerja LSM, mulai dari keterampilan teknis hingga nilai-nilai kepedulian sosial yang mendalam. Kehadiran mereka memberi kontribusi nyata bagi lembaga mitra sekaligus membawa dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. (SnK)
