KUPANG – Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Faperta Undana) bersama Ikatan Alumni Fakultas Pertanian (IKADANA FAPERTA) sukses menyelenggarakan kuliah umum bertema “Pemasaran Hasil Panen yang Menguntungkan Petani”. Acara ini bertempat di Aula Faperta Undana pada hari Jumat, 21 Juni 2024 dan disambut dengan antusiasme tinggi oleh para mahasiswa serta civitas akademika Faperta. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan fakultas untuk membekali mahasiswanya dengan pengetahuan praktis yang relevan dengan tantangan pertanian modern.
Kuliah umum ini menghadirkan narasumber istimewa, Hysinta L. Funan, S.P., seorang Analis Pasar Hasil Pertanian Ahli Muda pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, yang juga merupakan alumni berprestasi dari Faperta Undana. Kehadirannya memberikan perspektif yang unik dan relevan, menggabungkan teori akademis dengan pengalaman praktis di lapangan. Acara ini dipandu dengan apik oleh Antonia D. Manuk, S.P., yang berperan sebagai moderator, memastikan jalannya diskusi yang interaktif dan informatif.

Tujuan utama diselenggarakannya kuliah umum ini adalah untuk membekali mahasiswa dan civitas akademika Faperta Undana dengan wawasan praktis yang mendalam mengenai tantangan dan peluang dalam pemasaran hasil pertanian. Fokus utama pembahasan adalah konteks pertanian lokal di Nusa Tenggara Timur dan skala nasional yang lebih luas. Hal ini krusial mengingat sektor pertanian memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia, namun seringkali para petani menghadapi kendala besar dalam memasarkan produk mereka secara efektif dan menguntungkan.
Dalam paparannya, Hysinta secara lugas menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian di Indonesia berakar pada beberapa aspek krusial. Ini meliputi rendahnya tingkat produksi yang belum optimal, mutu hasil panen yang terkadang belum memenuhi standar pasar, serta sistem pemasaran hasil panen yang belum mampu memberikan keuntungan signifikan bagi para petani. Kondisi ini ironis, mengingat sektor pertanian menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar bagi negara, namun kontribusinya masih fluktuatif dan belum berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan para petani secara merata.
Strategi Agribisnis dan Kemitraan: Kunci Mengatasi Tantangan Pemasaran
Narasumber memaparkan pentingnya adopsi pendekatan agribisnis yang komprehensif. Pendekatan ini mencakup seluruh rantai pasok dari hulu hingga hilir, memastikan setiap tahapan saling terintegrasi dan memberikan nilai tambah. Lingkup agribisnis meliputi tahapan produksi pertanian, pengolahan hasil panen untuk meningkatkan nilai jual, proses distribusi yang efisien, hingga akhirnya konsumsi oleh end user. Hysinta secara tegas menekankan bahwa sektor pertanian tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan kolaborasi erat antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk petani itu sendiri, pemerintah, lembaga keuangan, serta para pelaku industri hilir yang berperan sebagai pembeli dan pengolah hasil.

Salah satu strategi utama yang diangkat dan ditekankan dalam kuliah umum ini adalah model kemitraan dengan offtaker. Offtaker adalah pihak atau perusahaan yang berkomitmen untuk menyerap hasil panen petani dalam jumlah dan harga yang disepakati. Contoh-contoh konkret keberhasilan skema kemitraan ini diberikan, seperti penyerapan gabah, cabai, ayam ras, dan bawang merah yang telah berhasil diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia. Model ini terbukti mampu memberikan kepastian pasar bagi petani, mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga, dan memastikan pendapatan yang lebih stabil.
Materi kuliah juga menyoroti urgensi untuk membangun hubungan strategis antarorganisasi dalam rantai distribusi. Ini meliputi hubungan yang kuat antara produsen (petani), pemasok input pertanian, konsumen akhir, distributor, serta mitra eksternal seperti lembaga penelitian atau startup teknologi pertanian. Dengan menjalin strategic alliance, petani dapat secara efektif mengatasi berbagai kendala klasik yang selama ini membelenggu mereka, seperti keterbatasan modal usaha, kesulitan akses pasar yang lebih luas, kurangnya pemanfaatan teknologi modern, dan keterbatasan keahlian dalam manajemen agribisnis.
Lebih lanjut, narasumber secara mendalam mengupas model positioning dalam pemasaran hasil pertanian. Lima pendekatan positioning dipaparkan secara rinci, yaitu penekanan pada keunggulan atribut produk (misalnya, produk organik), penawaran harga-kualitas yang kompetitif, spesifikasi aplikasi produk (misalnya, untuk kebutuhan industri tertentu), kategorisasi produk yang jelas, hingga penentuan siapa target penggunanya. Strategi positioning ini bertujuan untuk menempatkan produk pertanian secara unik di benak konsumen, sehingga mampu bersaing secara sehat dan berkelanjutan di pasar bebas yang kompetitif.

Melalui kuliah umum ini, para mahasiswa pertanian Undana secara khusus diajak untuk berpikir kritis dan mengembangkan inovasi dalam merancang strategi pemasaran hasil pertanian. Strategi yang diharapkan tidak hanya efisien dalam mencapai target pasar, tetapi juga secara fundamental mampu menguntungkan petani sebagai produsen utama. Pendekatan berbasis kemitraan dan relasi strategis diyakini sebagai salah satu solusi terbaik untuk mengatasi kesenjangan nilai tambah yang selama ini seringkali tidak dinikmati secara maksimal oleh petani.
Diharapkan agar ilmu dan wawasan praktis yang telah disampaikan dalam kuliah umum ini tidak berhenti hanya sebagai teori semata. Sebaliknya, diharapkan materi ini dapat ditindaklanjuti secara konkret dalam bentuk kegiatan penelitian yang lebih mendalam, program pengabdian pada masyarakat yang berdampak langsung, serta pengembangan kewirausahaan agribisnis yang kuat dan berpihak secara nyata pada kesejahteraan petani lokal di Nusa Tenggara Timur dan seluruh Indonesia. Ini adalah langkah penting menuju pertanian yang lebih makmur dan berkelanjutan.(Iyl)
