(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Kolonialisme Hijau Jadi Sorotan: Undana Jadi Ruang Diskusi Regional Asia Tenggara Bahas Perempuan, Tambang, dan Ekstraktivisme

KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) menjadi titik pertemuan strategis bagi akademisi, aktivis, dan perwakilan komunitas dari enam negara di Asia Tenggara dalam Dialog Publik bertema “Perempuan, Tambang, dan Ekstraktivisme di Asia Tenggara” pada Sabtu (1/11/2025) di Aula Rektorat Undana. Acara ini secara kolektif menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap praktik ekstraksi mineral kritis yang diidentifikasi sebagai bentuk baru kolonialisme hijau.

Dialog yang diprakarsai oleh Tim Kerja Perempuan dan Tambang Indonesia (TKPT Indonesia) dan ReSisters Dialogue Network ini bertujuan merumuskan langkah taktis melawan gelombang investasi yang mengatasnamakan transisi energi global.

Kritik terhadap Transisi Energi Palsu dan Solidaritas Lintas Negara

Ketua TKPT Indonesia, Dr. Haris Retno Susmiyati, S.H., M.H., menjelaskan pentingnya forum ini untuk memperluas solidaritas lintas sektor dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan yang menjadi korban industri ekstraktif.

Senada, Judy Pasimio dari ReSisters Dialogue, mengkritik narasi transisi energi yang ada, di mana ekstraksi mineral (seperti tambang litium dan nikel) diklaim sebagai bagian dari transisi hijau, padahal sering kali hanya memperluas keuntungan perusahaan besar. Ia menegaskan bahwa solidaritas lintas negara sangat penting untuk memperjuangkan keadilan.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng, yang menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut dan menyoroti risiko eksploitasi baru yang berpotensi ditimbulkan oleh narasi transisi energi hijau terhadap sumber daya alam dan dampaknya langsung pada perempuan.

“Dialog ini menjadi ruang penting bagi kampus untuk berperan aktif dalam isu-isu global, khususnya yang menyangkut keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial,” tutup Prof. Jefri.

Perempuan sebagai Korban dan Garda Terdepan

Sesi diskusi menampilkan “Suara dari Kawasan Investasi Energi”, menghadirkan testimoni langsung dari perwakilan komunitas dan aktivis dari jaringan ReSisters Dialogue Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia, Thailand, dan Myanmar/Burma.

Kesaksian tersebut menegaskan bahwa perempuan adalah kelompok paling rentan yang menanggung beban kerugian ekologis, namun pada saat yang sama, mereka adalah garda terdepan dalam menjaga dan memulihkan sumber kehidupan di tengah ancaman ekstraktivisme.

Dalam sesi panel, Norman Riwu Kaho, SP., M.Sc., Dosen Prodi Kehutanan Undana, menyampaikan analisis kritis mengenai paradoks transisi energi. Ia menyoroti bahwa solusi teknologi hijau global membutuhkan mineral kritis yang ekstraksinya di Indonesia justru didukung oleh energi fosil dan memindahkan dampak lingkungan serta sosial, seperti krisis air dan perampasan lahan, kepada komunitas rentan di NTT.

Dialog publik ini berhasil mempertemukan suara perempuan, akademisi, dan masyarakat sipil dalam menegaskan bahwa keberlanjutan sejati hanya dapat tercapai bila berpihak pada manusia dan lingkungan, sekaligus menjadi seruan kolektif Asia Tenggara untuk membangun masa depan yang adil, berkelanjutan, dan bebas dari bentuk kolonialisme hijau. (Audc)

Comments are closed.
Archives