(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

FISIP Undana Bedah Buku “Demokrasi Zombie” : Bongkar Kegagalan Konsolidasi dan Elite Power

KUPANG – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), bekerja sama dengan FISIP Corner dan Komunitas Mendi Project, sukses menyelenggarakan acara Launching dan Bedah Buku “Demokrasi Zombie” pada Kamis, 4 Desember 2025. Karya kritis dari akademisi muda Undana, Ernestus Holivil,S.Fil.,MPA ini menjadi magnet bagi para tokoh penting, termasuk jajaran pemerintahan, akademisi senior, dan jurnalis nasional, yang berkumpul di Aula Pascasarjana Undana untuk merefleksikan kemunduran demokrasi Indonesia.

“Demokrasi Zombie” hadir sebagai metafora tajam yang menggambarkan kondisi politik yang tampak hidup secara prosedural, namun kehilangan substansi dan jiwanya. Ernestus Holivil mengurai fenomena pelemahan institusi independen, manipulasi regulasi, dan dominasi politik oleh kepentingan elite. Menurut Ernestus, ia merasa puas karena bukunya berhasil menyentuh isu inti, yakni ajakan untuk melawan kultur politik yang merusak. “Demokrasi yang kehilangan jiwa tetap bisa dihidupkan kembali, selama kita memilih untuk melawan pembusukannya,” tegasnya.

Dukungan dan Kontribusi Lintas Disiplin

Acara ini menegaskan statusnya sebagai forum ilmiah kritis dengan dukungan tamu dan narasumber papan atas. Tercatat yang turut memberikan dukungan moril adalah Emanuel Melkiades Laka Lena, Gubernur Nusa Tenggara Timur, akademisi senior seperti Boni Hargens, Ph.D dan Jurnalis Senior Fransiskus Sarong, serta dukungan dari para akademisi senior di Undana, Prof. Drs. Tans Feliks, Dekan FISIP, Dr. William Djani, Dr. Marsel Robot, dan Dr. Laurensius P. Sayrani, MPA. Dukungan para tokoh ini, memberikan perspektif yang kaya dan multidisiplin terhadap kondisi demokrasi nasional hari ini.

Dipandu oleh Gusty Richarno dari Media Cakrawala NTT, diskusi dibuka dengan premis filosofis bahwa tidak ada kebenaran mutlak, melainkan kebenaran relatif. Pengantar ini menjadi “alarm” bahwa cara masyarakat mengkonstruksi pemahaman tentang demokrasi Indonesia selama ini mungkin telah keliru. Acara ini secara substantif menjadi ajang dekonstruksi dan dialog terbuka, mengajak mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil untuk terlibat aktif dalam merawat nilai-nilai demokrasi.

Kritik Konsolidasi: Demokrasi Indonesia “Suam-Suam Kuku”

Prof. Dr. David B. W. Pandie, dosen senior FISIP, memberikan kritik kunci dengan menilai metafora “zombie” sangat tepat. Menurutnya, demokrasi Indonesia berada dalam kondisi “suam-suam kuku”—tidak cukup hangat untuk menunjukkan kemajuan—dan telah gagal mencapai konsolidasi yang seharusnya menjadi titik penting pasca-Reformasi. Penulis, Ernestus, menyambut baik pandangan ini, yang memperkuat keyakinannya bahwa perlawanan warga dan reformasi institusional adalah jalan tunggal menuju kebangkitan.

Dekan FISIP Undana, Dr. William Djani, memberikan perspektif yang sangat menyentuh penulis. Ia mengkritik bahwa demokrasi yang ada hanya menjadi alat untuk menjaga kekuasaan elite. Dr. Djani melemparkan tantangan reflektif: “Sampai kapan demokrasi zombie ini dibiarkan?”. Pertanyaan ini menjadi tantangan etika politik yang mendesak, yang diharapkan dapat merangsang pembaca untuk merenung lebih jauh mengenai keadaan demokrasi.

Fransiskus Sarong, Jurnalis Senior, semula skeptis, namun akhirnya mengakui ketepatan metafora zombie dalam menggambarkan demokrasi yang tidak substansial. Sementara itu, Dr. Marsel Robot menambahkan perspektif kultural yang segar dengan memperkenalkan konsep “Wura Ceki” (roh yang terus berjalan tanpa tujuan) sebagai alternatif metafora. Kritik Marsel terhadap “kebangkrutan demokrasi” dan korupsi sebagai “berkah Tuhan” adalah pukulan keras terhadap realitas yang sering dihindari dalam diskusi publik.

Ruang Refleksi dan Ajakan Kolektif untuk Bertindak

Setelah mendengarkan berbagai tanggapan, Ernestus Holivil menyatakan rasa terima kasih dan merasa “tumbuh dalam keyakinan” bahwa Demokrasi Zombie bukan hanya sebuah buku, tetapi ruang refleksi yang mendalam. Ia menegaskan kembali pesannya: diskusi ini adalah sebuah ajakan kolektif untuk bertindak, melihat dengan jernih keadaan demokrasi, dan lebih penting lagi, mencari cara untuk membangkitkannya kembali dari tidur panjang.

Acara yang berdurasi empat jam (08.00–12.00 WITA) ini diselenggarakan di Aula Pascasarjana Undana, Kota Kupang. Kehadiran berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, media, hingga Pemerintah Provinsi NTT, menunjukkan bahwa dunia akademik Undana berkomitmen untuk menjadi jangkar bagi percakapan publik mengenai arah dan masa depan Indonesia.

Keberhasilan penyelenggaraan acara ini, yang memberikan fasilitas lengkap termasuk e-sertifikat dan rekaman materi kepada peserta, memperkuat citra FISIP Undana sebagai lembaga yang tidak takut menyuarakan kritik dan berkontribusi secara substantif dalam kesadaran politik nasional. Buku “Demokrasi Zombie” diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan membaca, merenung, dan bertindak untuk pemulihan demokrasi Indonesia. (Ing)

Comments are closed.
Arsip