(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Kolaborasi Undana-Maastricht University: Dorong Collaborative Learning dan Penguatan Pembangunan Pedesaan NTT

KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali memperkuat jalinan kerja sama internasionalnya dengan Maastricht University, Belanda. Kedua universitas menggelar Field Study: Collaborative Learning on Rural Area Development and Cultural Exchange yang menjadi bagian dari implementasi tahun kedua kolaborasi akademik, berfokus pada pengembangan wilayah pedesaan dan pertukaran budaya.

Acara pembukaan kegiatan ini berlangsung di Aula Rektorat Undana pada Selasa (4/11/2025) dan mempertemukan 13 mahasiswa Maastricht University dengan sejumlah mahasiswa Undana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Hukum (FH), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Mereka terlibat dalam pembelajaran kolaboratif yang bertujuan memperkuat pemahaman lintas konteks mengenai isu pembangunan berkelanjutan di daerah pedesaan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyampaikan apresiasi atas kehadiran para mahasiswa asing, meyakini bahwa kegiatan ini akan menjadi pengalaman berharga. “Saya percaya bahwa kalian akan menemukan banyak hal yang berbeda dan belajar banyak hal baru selama berada di Kupang dibandingkan dengan kota asal kalian. Saya yakin pengalaman ini akan memberikan manfaat besar bagi kalian, baik untuk studi maupun masa depan,” ujarnya.

Prof. Jefri juga memperkenalkan profil Undana sebagai universitas tertua, terbesar, dan terbaik di Provinsi NTT. Undana saat ini memiliki sembilan fakultas, satu sekolah pascasarjana, serta sekitar 71 hingga 72 program studi. Beliau menutup sambutannya dengan harapan agar para mahasiswa asing dapat berinteraksi dan mengenal karakter masyarakat Kupang serta kekayaan budaya NTT yang penuh kehangatan.

Dalam kesempatan yang sama, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (MoA) antara Undana dan Maastricht University. Penandatanganan ini secara resmi menandai komitmen kedua universitas untuk terus berkolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya yang relevan dengan konteks lokal NTT.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan, diawali sesi kuliah berjudul “Problems of Rural Area in the Province of East Nusa Tenggara”. Narasumber sesi ini, Drs. Alexander Koroh, M.P.M., Kepala Sektor EBT Provinsi NTT, memaparkan gambaran makro tantangan pembangunan, menjelaskan bahwa permasalahan pedesaan di NTT merupakan siklus setan (vicious cycle) yang saling terkait.

Beliau menjelaskan empat masalah inti yang dihadapi NTT: kerawanan pangan dan air (disebabkan kemarau panjang yang rentan gagal panen), infrastruktur yang tidak merata (akses transportasi, listrik, dan sanitasi terbatas), keterbatasan SDM dan pendidikan (termasuk fenomena brain drain), serta ekonomi lemah (didominasi sektor subsisten dan ketergantungan pada rentenir). Masalah-masalah inti ini memicu masalah turunan serius, termasuk tingginya kasus stunting.

Setelah pemaparan makro, sesi kedua menyajikan studi kasus spesifik di Dusun Sanenu, Kabupaten Kupang, yang menjadi lokasi utama field study. Sonya Selan, S.Pd., pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sanenu Berkarya, mempresentasikan tantangan di sana, terutama di sektor pendidikan (rendahnya literasi) dan adanya kasus serius perdagangan manusia (TPPO).

Sebagai solusi, TBM Sanenu Berkarya berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui tenun tradisional, pengembangan pangan lokal, dan pendirian TBM sebagai ruang aman untuk menumbuhkan pemikiran kritis. TBM ini juga berperan penting dalam melestarikan budaya Timau dengan mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam pembelajaran kontekstual.

Melalui kolaborasi ini, Undana dan Maastricht University tidak hanya membangun jembatan akademik lintas negara, tetapi juga menghadirkan ruang pembelajaran yang sarat makna. Field study ini menjadi wujud nyata semangat collaborative learning yang mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial untuk bersama-sama membangun masa depan pedesaan NTT yang lebih berkelanjutan. (Fnt)

Comments are closed.
Arsip