KUPANG – Lima mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) berhasil mengukir prestasi gemilang dengan menyumbangkan total tujuh medali perunggu bagi kontingen Nusa Tenggara Timur (NTT) di cabang olahraga kempo pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri II 2025. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah, mulai tanggal 11 hingga 26 Oktober 2025.
Keberhasilan ini melengkapi torehan medali sebelumnya, menegaskan bahwa mahasiswa Undana tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu berprestasi di kancah nasional. Kelima atlet yang merupakan binaan langsung Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora NTT) ini menunjukkan semangat, disiplin, dan ketekunan yang membuahkan hasil membanggakan.
Zakarias Naimena, mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (Penjaskesrek) FKIP, menggarisbawahi makna pencapaian ini. Ia menjelaskan bahwa sistem pertandingan menggunakan double elimination, yang menuntut komitmen dan kerja sama tim yang luar biasa.


“Di nomor embu, kami harus menghadapi 11 provinsi yang dibagi menjadi dua pool, bertanding berulang-ulang. Proses ini menuntut kerja keras, komitmen, dan kerjasama tim. Semua ini bisa tercapai karena Tuhan, kerja keras, dan dukungan teman-teman serta keluarga,” tuturnya, berbagi kisah kebersamaan di balik medali.
Tantangan berat juga dihadapi Rossaliani Malihing, mahasiswi Prodi Psikologi FKM, peraih perunggu di nomor randori perorangan putri kelas 65 kilogram. Ia harus berjuang keras menghadapi manajemen waktu dan berat badan yang ekstrem.
“Persiapan seleksi hingga training center (TC) berlangsung hanya sekitar dua sampai tiga bulan. Saya sempat kelebihan empat sampai lima kilo sebelum bertanding. Jadi harus ekstra menurunkan berat sambil tetap latihan dua sampai tiga kali sehari dan tetap kuliah. Itu tantangan besar, tapi bukan penghalang buat saya mempersiapkan diri secara total,” ungkap Rossaliani.



Rivalda Permata Salia Betan, mahasiswi Prodi Manajemen FEB, yang meraih dua medali perunggu (Embu PS Campuran Yudansa dan Embu Beregu Putri), mengaku momen di podium adalah puncak kebanggaan. “Setelah melewati proses latihan yang panjang dan penuh tantangan, saat berdiri di podium itu saya merasa bangga. Walaupun itu di podium tiga, saya merasa sangat bangga pada diri saya,” tuturnya.
Perasaan serupa diungkapkan oleh Maria Martinar Chriscancti Fernandes (Prodi Arsitektur FST) dan Maria Vincentia Chrisancta Fernandez (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP) yang masing-masing menyumbangkan dua medali perunggu di nomor beregu. Keduanya menekankan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kerja sama dan pembelajaran tentang sikap dalam tim.
Namun, Maria Vincentia juga menyampaikan harapan agar Undana memberikan dukungan yang lebih luas bagi para atlet mahasiswa. “Harapan saya ke depannya, kami para atlet bisa membuka tempat latihan di sini supaya bisa jadi wadah bagi atlet muda dan teman-teman sekitar yang ingin berlatih bersama,” ujarnya, menyoroti kebutuhan akan fasilitas seperti tempat latihan atau gym di kampus.

Prestasi yang diraih oleh kelima mahasiswa ini, melengkapi torehan medali dari atlet Undana lainnya, diharapkan menjadi motivasi bagi generasi muda NTT. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi, disiplin, dan semangat pantang menyerah mampu mengharumkan nama daerah dan almamater di kancah nasional. (Audc)
