(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem: Undana Terapkan Model Sekolah Mandiri Pangan Berbasis Inovasi Audio di TTS

TIMOR TENGAH SELATAN – Merespons tingginya angka prevalensi stunting dan kemiskinan ekstrem di Desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekelompok dosen dan mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) meluncurkan program inovatif. Tim pengabdian ini menerapkan model Sekolah Mandiri Pangan (SMP) dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik selama dua bulan penuh di SD Negeri Oiklani.

Program ini dipimpin oleh Dr. Mariana Dina Ch. Lerik, S.Psi., M.Si., dosen Psikologi Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana, dan melibatkan dosen Fakultas Pertanian: Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, M.P., C.R.A.; Santhy Chamdra, S.P., M.Si., C.R.P.; Yakobus Siubelan, S.P., M.Si.; dan Siska Elvani, S.P., M.P.

Model Integratif “Dari Pekarangan ke Piring”

Program bertajuk “Dari Pekarangan ke Piring” ini mengusung konsep integratif yang menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi gizi, pusat produksi pangan lokal, dan tempat pemberdayaan ekonomi. Dr. Mariana menjelaskan bahwa intervensi harus menyentuh semua sisi persoalan gizi yang diperburuk oleh keterbatasan edukasi dan ekonomi.

Model SMP mencakup tiga pilar utama yaitu Edukasi Gizi berbasis sekolah dan keluarga, Pengembangan Kebun Gizi di pekarangan sekolah dan rumah warga dan Pelatihan Wirausaha Mikro berbasis pangan lokal.

    Dr. Mariana menyebut data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Desa Oinlasi terus meningkat hingga tahun 2025, bahkan jauh melampaui rata-rata provinsi maupun nasional. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya literasi gizi dan kurangnya pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan alternatif.

    Inovasi Edukasi Gizi Melalui Pengeras Suara (Toa)

    Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian bersama mahasiswa KKN berhasil membangun Kebun Gizi aktif di pekarangan SD Negeri Oiklani. Kebun ini ditanami aneka sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi, serta didukung oleh kolam ikan lele sebagai sumber protein hewani.

    Selain produksi pangan, tim menerapkan inovasi unik dalam sistem edukasi gizi berbasis sekolah: informasi gizi diputar setiap hari melalui pengeras suara yang dipasang di area sekolah.

    “Informasi tersebut disampaikan tiga kali sehari, yaitu sebelum jam masuk kelas, saat jam istirahat, dan jelang jam pulang sekolah dengan narasi edukatif yang mudah dipahami anak-anak, selain itu diputarkan lagu-lagu dengan lirik mengandung edukasi gizi,” jelas Dr. Mariana.

    Ia mengungkapkan, hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi gizi sekolah, serta meningkatnya konsumsi sayur dan ikan lele hasil kebun sekolah oleh para siswa. Model intervensi sederhana namun efektif ini menjadi bukti bahwa perubahan pola konsumsi dan perilaku gizi dapat dimulai dari lingkungan sekolah.

    Diusulkan Menjadi Model Replikasi Nasional dan HKI

    Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, M.P., C.R.A., menambahkan bahwa program ini berjalan berkat kolaborasi erat antara Undana, Pemerintah Desa Oinlasi, SD Negeri Oiklani, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan TTS. Bahkan, Rektor Undana Prof. Dr. drh. Maxs U E Sanam.,M.Sc dan Kepala Lembaga Pengabdian (LP2M) Undana Dr. Herry Z Kotta, ST.,MT turun langsung memantau kegiatan.

    “Ini bukan sekadar KKN biasa. Kami ingin mahasiswa belajar langsung dari realitas sosial, sekaligus membawa perubahan nyata di masyarakat,” ungkap Prof. Nendissa.

    Lebih lanjut, Prof. Nendissa menyebutkan bahwa model Sekolah Mandiri Pangan ini sedang dalam proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan diusulkan sebagai model replikasi nasional untuk daerah 3T. Konsep ini sendiri merupakan hasil rancang bangun dari Prof. Dr. Ince Picauly, M.Si., Guru Besar Gizi Masyarakat Undana.

    Dengan tumbuh suburnya Kebun Gizi dan tumbuhnya kesadaran di kalangan warga, Desa Oinlasi menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari pekarangan, memberikan pesan kuat bahwa menjaga gizi anak-anak adalah investasi masa depan.(Ref)

    Comments are closed.
    Arsip