(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Konservasi Lahan Berkelanjutan: FKIP Undana Dukung Petani Oenitu Terapkan Teknik Terasering

OENITU, KUPANG TENGAH – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan fokus pada program konservasi tanah. Kegiatan bertajuk “Terasering sebagai Solusi Konservasi Lahan” ini digelar pada Kamis (2/10/2025) di Desa Oenitu, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Kegiatan PkM ini dipimpin oleh Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., Guru Besar Ilmu Teknik Pengairan, dan melibatkan dosen, mahasiswa, siswa SMK Pertanian, serta masyarakat setempat.

Menanggapi Erosi dan Krisis Lapisan Tanah Subur

Prof. Paul menjelaskan bahwa program ini adalah respons terhadap kondisi geografis wilayah Oenitu yang didominasi topografi curam, yang mengakibatkan tingginya tingkat erosi dan kehilangan lapisan tanah subur. Masalah ini diperparah oleh minimnya infrastruktur konservasi dan rendahnya pemahaman teknis petani.

Menurut Prof. Paul, hilangnya lapisan tanah subur tidak hanya berdampak pada penurunan hasil pertanian, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Desa Oenitu adalah cermin dari banyak wilayah pertanian di NTT; tanahnya subur tetapi rapuh. Kami berupaya membantu petani menjaga tanah mereka agar tetap produktif. Terasering menjadi pilihan karena sederhana, terbukti efektif, dan mudah diterapkan dengan sumber daya yang ada,” jelasnya.

Tim PkM FKIP Undana menerapkan teknik terasering sebagai metode utama konservasi mekanik karena terbukti mampu menahan air hujan dan mengurangi aliran permukaan yang membawa tanah subur ke bawah lereng. Penerapan program ini dimulai dengan pemetaan lahan dan pembangunan struktur di lokasi percontohan, Undana Farm, yang kemudian dijadikan model pembelajaran bagi masyarakat Oenitu.

Dampak Signifikan: Gotong Royong dan Perubahan Pola Pikir

Prof. Paul menilai bahwa hasil paling signifikan dari kegiatan ini melampaui aspek teknis pembangunan teras. Hal itu terlihat dari semangat gotong royong yang tumbuh di antara petani, mahasiswa, dan siswa, serta perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya konservasi tanah.

“Yang istimewa dari kegiatan ini bukan hanya hasil fisik, tapi semangat gotong royong yang tumbuh di mana kami bersama petani, mahasiswa, dan siswa bekerja bersama. Mahasiswa belajar dari petani, petani belajar dari kampus,” ungkapnya.

Secara non-teknis, masyarakat mulai menyadari bahwa menjaga lahan adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pertanian, bukan sekadar proyek sementara. Prof. Paul menambahkan, “Yang paling kami syukuri bukan hanya struktur terasering yang jadi, tetapi tumbuhnya kesadaran masyarakat yang mulai melihat konservasi sebagai kebutuhan sendiri, bukan proyek luar.”

Mendorong Gerakan Konservasi Mandiri

Guna menjamin keberlanjutan program, tim PkM FKIP Undana mendorong pembentukan kelompok konservasi tanah di tingkat desa. Kelompok ini diharapkan dapat mengelola kegiatan secara mandiri, mengintegrasikan program konservasi dalam rencana pembangunan desa, dan menjadi pelopor penerapan teknik konservasi di wilayah sekitar.

“Kami ingin apa yang sudah dimulai ini tidak berhenti di Undana Farm. Konservasi tanah harus menjadi gerakan masyarakat, karena tanah adalah warisan, dan menjaga tanah berarti menjaga masa depan,” pesannya.

Prof. Paul menyimpulkan bahwa model konservasi yang dikembangkan di Oenitu berpotensi direplikasi di daerah lain di NTT dengan karakteristik lahan serupa, menegaskan komitmen FKIP Undana dalam perwujudan tridharma perguruan tinggi. (Audc)

Comments are closed.
Arsip