KUPANG – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menorehkan catatan keberhasilan dalam dunia akademik. Selama dua hari berturut-turut, pada Selasa dan Rabu, 27-28 Mei 2025, FISIP Undana sukses menyelenggarakan Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Administrasi di Aula Lantai II FISIP Undana, mengukuhkan dua akademisi baru dengan gelar doktor.
Promovendus pertama Albertino De Jesus merupakan mahasiswa bimbingan Promotor Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S serta para Kopromotor, Dr. Ajis Salim Adang Djaha, M.Si dan Dr. Laurensius P. Sayrani, MPA, sedangkan Promovendus kedua, Roslin E. M. Sormin dengan Promotor Prof. Dr. Frans Salesman, M.Kes serta para kopromotor Dr. Drs. Melkisedek N. B. C. Neolaka, M.Si dan Dr. Hendrik Toda, M.Si. Keduanya berhasil mempertahankan disertasinya di forum akademik terbuka dan akhirnya secara resmi dikukuhkan sebagai Doktor Ilmu Administrasi setelah melalui proses sidang yang ketat.
Albertino De Jesus, dengan disertasi berjudul “Kolaborasi Perguruan Tinggi Swasta dan Pemerintah dalam Memajukan Sumber Daya Manusia Berdasarkan ‘Spirit Mauberisme’ di Timor Leste,” menyoroti pentingnya sinergi lintas lembaga dalam pembangunan SDM di wilayah perbatasan yang kaya nilai sejarah dan budaya. Disertasinya mengeksplorasi bagaimana “Spirit Mauberisme”—konsep sosial dan ideologis dari gerakan pembebasan nasional Timor Leste—dapat diadaptasi sebagai prinsip dasar dalam membentuk karakter mahasiswa dan membangun institusi pendidikan berbasis nilai lokal.
Sementara itu, Roslin E. M. Sormin mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Model Tata Layanan Pengelolaan Stunting pada Puskesmas di Kabupaten Timor Tengah Selatan.” Penelitian ini memberikan kontribusi akademik yang sangat relevan untuk menjawab tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT, yang memiliki angka prevalensi stunting mencapai 37,8%.
Disertasi Roslin tidak hanya mengungkap fakta prevalensi stunting yang tinggi di Kabupaten TTS, tetapi juga menawarkan pendekatan solutif melalui model tata kelola terintegrasi dan pemberdayaan kesehatan. Ia menekankan peran bidan sebagai lini terdepan dan aktor kunci dalam layanan kesehatan ibu dan anak.
Temuan penting dalam disertasi Roslin menunjukkan bahwa lima dimensi smart governance—kolaborasi, keterikatan, regulasi, peran lembaga independen, dan kebijakan adaptif—memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan efektivitas layanan stunting di puskesmas. “Novelty dari karya ilmiah ini terletak pada dua hal,” ungkap Prof. Dr. Frans Salesman., M.Kes sebagai promotornya. “Pertama, integrasi pendekatan korelatif dua cabang ilmu antara ilmu administrasi dan ilmu kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak yang relevan dengan situasi di NTT. Kedua, penegasan para bidan sebagai straight level bureaucratic yang tidak hanya menjalankan tugas teknis, tetapi juga berperan penting dalam tata kelola kebijakan mikro di bidang pelayanan kesehatan.”
Keberhasilan kedua promovendus ini menandai komitmen FISIP Undana dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap berkontribusi nyata dalam bidang administrasi publik dan pembangunan daerah. Dengan penambahan dua doktor baru ini, kini FISIP Undana memiliki total 36 doktor.
Pencapaian ini sekaligus menjadi bukti nyata peran strategis FISIP Undana dalam mendukung pengembangan ilmu administrasi yang aplikatif dan berlandaskan pada konteks lokal. Promosi doktor ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak akademisi untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (Fnt)



