KUPANG – Paulus Resky Ardiansyah Ully dan Milka Aprianti Imel Nomleni, dua mahasiswa berprestasi dari Universitas Nusa Cendana (Undana), telah menorehkan tinta emas dengan dinobatkan sebagai Duta Bahasa Terbaik Kedua Tahun 2025. Meskipun predikat terbaik pertama belum berhasil diraih, capaian ini meninggalkan jejak kepuasan dan rasa syukur mendalam bagi keduanya. Perjalanan mereka tidak instan, melainkan hasil dari persiapan matang dan pengalaman berharga dari kompetisi sebelumnya.
Kisah Adi dan Milka sebagai sahabat seperjuangan bermula sejak bangku SMP, bahkan pernah duduk sebangku. Sejak itu, keduanya telah menjalin komitmen untuk bersama-sama mengikuti berbagai kompetisi, termasuk Duta Bahasa. Keikutsertaan mereka di ajang Duta Bahasa Pelajar pada tahun 2020, meskipun belum membuahkan hasil, menjadi pelajaran berharga yang mengasah semangat dan kesiapan mereka untuk kompetisi kategori umum tahun ini.
Persiapan panjang telah dilakoni sejak Januari 2025, terfokus pada Krida, program kerja aksi nyata yang menjadi salah satu aspek penilaian utama Duta Bahasa. Krida ini tidak hanya sebuah konsep, melainkan implementasi nyata dari gagasan mereka untuk memajukan literasi dan kebahasaan di masyarakat. Kesamaan visi dan misi inilah yang menjadi benang merah perjalanan Adi dan Milka.
Di balik senyum bangga mereka, tersimpan cerita kompetisi yang penuh gejolak. Adi mengungkapkan bahwa persaingan tahun ini terasa jauh lebih sengit dibanding sebelumnya. Peserta datang dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia, termasuk President University dan BINUS University, dengan latar belakang kuat dan keahlian yang mumpuni dalam isu kebahasaan. Keberagaman peserta ini, bahkan dari luar NTT, menciptakan atmosfer kompetisi yang “panas” namun memacu semangat.
Milka menambahkan, tingkat kematangan para peserta dalam penguasaan bahasa asing dan kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) jauh melampaui ekspektasinya. Dari total 146 pendaftar awal yang berasal dari 6 universitas berbeda, setiap delegasi menunjukkan kualitas yang luar biasa, menjadikan proses penjurian semakin menantang.
Motivasi di Balik Krida: Berpijar dan Gemah Bahastra
Adi, dengan Krida bertajuk “Berpijar” (Bersama Prioritas Kualitas Literasi Usia Anak dan Remaja), mengusung misi mulia untuk meningkatkan literasi anak-anak dan remaja. Program ini menyasar anak-anak usia 7 hingga 13 tahun, terutama di daerah Noelbaki, eks-pabrik kulit, di mana banyak anak putus sekolah atau harus bekerja sambil belajar. Berpijar berfokus pada pembangunan pojok baca, kelas Sabtu ceria, dan donasi sampah yang diubah menjadi buku. Ini adalah kelanjutan dari inisiatif pribadi yang telah ia jalankan sejak SMA, bukan sekadar program kompetisi.
Berbeda dengan Adi, Krida Milka yang diberi nama “Jaga Bahastra” (Jalin Generasi Aktif Bangga Bahasa dan Sastra) berakar dari keresahannya terhadap rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan anak muda, terutama pelajar. Berangkat dari pengalaman seorang alumni Prodi Ilmu Komunikasi, yang berprofesi sebagai penyiar radio di Kota Kupang, Milka menilai banyak remaja kesulitan mengungkapkan argumen dalam bahasa Indonesia, sehingga memilih menggunakan bahasa lokal. Krida ini bertujuan menguatkan literasi dan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan pendidikan, selaras dengan isu revitalisasi bahasa daerah dan penguasaan bahasa asing.
Jaga Bahastra memiliki teknis yang terencana, meliputi pembinaan dan penyuluhan wicara publik, pengenalan isu kebahasaan, serta karya sastra dan jurnalistik. Milka juga berencana berkolaborasi dengan komunitas internasional AIYA NTT (Australia-Indonesia Youth Association), untuk memberikan kesempatan pertukaran bahasa dan budaya. Fokus lokusnya adalah SMA Negeri 7 Kupang, tempat ia menemukan validitas data terkait isu ini.
Dukungan Universitas dan Persiapan Menuju Tingkat Nasional
Dalam perjalanan kompetisi Duta Bahasa, Adi dan Milka sama-sama merasakan dukungan signifikan dari pihak universitas, terutama dalam bentuk izin dispensasi waktu kuliah untuk menghadiri pertemuan dan wawancara di Balai Bahasa Provinsi NTT. Dukungan dari dosen dan teman-teman juga tak kalah penting, terbukti dari antusiasme mereka dalam mendukung video kampanye “Trigatra Bangun Bahasa” yang diunggah Adi dan Milka.
Kini, dengan predikat Duta Bahasa Terbaik Kedua, Adi dan Milka tengah mempersiapkan diri untuk menjadi delegasi NTT di tingkat nasional bersama Daniel Hosea Dicky dan Gregoria Wiwin Komaladewi, pasangan pemenang pertama Duta Bahasa NTT. Peran mereka adalah sebagai “cadangan” atau tim pendukung, siap menggantikan jika pemenang pertama berhalangan.
Persiapan Krida untuk tingkat nasional menjadi fokus utama, terutama Krida mereka yang akan membahas isu Rabies, sebuah masalah kesehatan penting di Nusa Tenggara Timur. Selain Krida, persiapan juga meliputi pelatihan wicara publik dengan pembina dari IKADUBAS NTT dan coach profesional, pengasahan critical thinking, serta persiapan penampilan dan psikologi. Adi dan Milka juga akan dilatih dalam pentas seni, mengingat aspek tersebut menjadi salah satu penilaian di tingkat nasional. (Ing)




