KUPANG – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan serius dalam mengatasi masalah gizi dan stunting yang masih tinggi. Di tengah isu tersebut, seorang pakar gizi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) menawarkan solusi inovatif yang berakar pada potensi lokal. Menurutnya, pemanfaatan ekologi pangan—yaitu interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan untuk menghasilkan makanan—adalah kunci utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah ini.
Pemaparan mendalam ini disampaikan oleh Prof. Dr. Intje Picauly, S.Pi., M.Si, seorang pakar ekologi pangan dan gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana. Dalam acara diskusi “Undana Talk” yang disiarkan di kanal YouTube Pos Kupang pada Rabu (27/8/2025), Prof. Intje menegaskan bahwa kualitas gizi saat ini akan menentukan masa depan SDM, menjadikan ekologi pangan sebagai aset strategis yang tak ternilai.
Masalah gizi di NTT bukan sekadar isu kesehatan, melainkan hambatan serius bagi pembangunan. Prof. Intje menyoroti tingginya kasus anak underweight, wasting, dan stunting yang disebabkan oleh kekurangan gizi makro (protein dan energi) serta gizi mikro (kalsium dan zat besi). Ia menjelaskan bahwa masalah ini tidak hanya menyerang keluarga miskin, tetapi juga dapat terjadi pada keluarga berkecukupan akibat pola asuh dan pola makan yang tidak tepat.
Pola makan yang dipengaruhi budaya dan kepercayaan lokal juga memperparah kondisi ini. Prof. Intje mencontohkan kebiasaan menghindari beberapa makanan kaya protein seperti telur, ikan, atau kacang-kacangan, yang justru sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Ia juga menekankan betapa krusialnya asupan nutrisi yang memadai bagi ibu hamil, terutama pada trimester akhir, untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi.
Solusi Berbasis Komunitas: Inovasi dari Desa Oinlasi
Sebagai bukti nyata bahwa ekologi pangan bisa menjadi solusi, Prof. Intje membagikan pengalamannya bersama tim Undana dalam program pengabdian masyarakat di Desa Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Tim ini mengembangkan Rumah Komunikasi Stunting, sebuah model inovatif yang menggabungkan kebun, kolam, dan kandang dalam satu area Posyandu desa.
Melalui program ini, masyarakat dibiasakan untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pangan utama. Mereka belajar menanam sayur, memelihara ikan, dan beternak ayam, yang hasilnya bisa diolah menjadi makanan bergizi. Prof. Intje menjelaskan bahwa dengan skema ini, ketergantungan pada pasar dapat dikurangi, sehingga setiap keluarga memiliki ketahanan pangan yang mandiri.
Terkait program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), Prof. Intje memberikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa program ini akan sulit berkelanjutan jika masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Selain biayanya mahal, distribusi yang jauh berisiko menurunkan kualitas gizi bahan pangan.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memberdayakan pangan lokal sebagai sumber utama. “Ekologi kita harus kuat dulu,” tegasnya. Menurut Prof. Intje, ketersediaan pangan lokal dan kemampuan SDM untuk mengolahnya akan sangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program MBG.
Menutup diskusi, Prof. Intje mengajak masyarakat untuk melihat gizi berkualitas sebagai sesuatu yang bisa didapatkan dari lingkungan sekitar, tanpa harus mahal. Ia menyebutkan bahwa menanam sayur di pekarangan, memelihara ayam, atau membuat kebun kecil bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga dengan biaya yang minimal. “Keseriusan setiap keluarga dalam memberdayakan alam sekitar adalah kunci untuk mewujudkan gizi yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan demikian, solusi yang ditawarkan Prof. Intje bukan sekadar wacana teoretis, melainkan sebuah pendekatan praktis yang memberdayakan masyarakat NTT untuk mengatasi stunting dengan sumber daya yang sudah mereka miliki. Semoga visi ini mampu diterapkan secara masif di seluruh wilayah NTT. (audc)
