KUPANG – Tiga perguruan tinggi unggulan, yakni Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Timor (Unimor), dan Universitas Brawijaya (UB), menggelar rapat daring pada Jumat (3/10/2025) untuk membahas pembentukan konsorsium kerja sama di bidang peternakan.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari inisiasi Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) yang sebelumnya pernah berkunjung ke Undana dan Unimor. Tujuannya adalah memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di sektor peternakan, khususnya di Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U E Sanam.,M.Sc menyambut baik inisiatif ini sebagai kesempatan untuk mengkristalisasi ide. “Ini merupakan kesempatan yang sangat baik yang mempertemukan tim dari Undana, UB, maupun Unimor untuk bisa mengkristalisasi ide yang ada sampai pada pembuatan proposal yang dapat diusulkan kepada pihak kementerian maupun industri dan pemerintah daerah,” ungkapnya.
Identifikasi Masalah dan Komitmen Riset Sapi Bali
Dalam rapat tersebut, masing-masing universitas memaparkan potensi dan pengalaman mereka, sekaligus mengidentifikasi masalah krusial di NTT, yang dikenal sebagai salah satu lumbung ternak.

Kepala LP2M Undana, Dr. Herry Zadrak Kotta, S.T., M.T., menyampaikan bahwa beberapa kendala yang mengancam sektor ini adalah kualitas dan kuantitas pakan, yang dipengaruhi oleh kemarau panjang; sistem pemeliharaan yang masih tradisional; infrastruktur yang menghambat akses pasar; dan praktik peternak yang menjual indukan produktif untuk dikonsumsi.
Senada dengan itu, peneliti Undana, Ir. I Gusti Ngurah Jelantik, M.Sc, Ph.D, menyoroti rendahnya produktivitas sapi dan angka kematian anakan sapi yang mencapai 70% di beberapa desa di Timor Tengah Selatan (TTS), serta sistem pemasaran yang hampir tidak ada perubahan.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Unimor, Dr. Yoseph Nahak Seran, S.Pd., M.Si., menyatakan bahwa Unimor telah memetakan roadmap riset jangka panjang peternakan sapi bali untuk lima tahun ke depan. “Kolaborasi ini menjadi penting karena memberikan harapan untuk kami di Unimor dan daerah perbatasan,” ucapnya.

Peran UB: Strategi Inovasi dan Kebijakan
Peneliti dari Fakultas Peternakan (FAPET) UB, Prof. Dr. Ir. Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih, M.Sc., mengomentari bahwa salah satu sumber masalah adalah ketidakpedulian terhadap masalah peternakan sapi bali.

Melalui konsorsium ini, ditekankan perlunya: Pendataan seleksi genetik sapi bali unggulan untuk meningkatkan produktivitas dan populasi, Peran pemerintah daerah dalam membuat dan memperkuat kebijakan pemotongan sapi betina produktif dan Pengembangan teknologi pakan lokal NTT dan program breeding peternakan.
UB, yang dikenal sebagai pusat unggulan riset peternakan nasional, menyatakan kesiapan untuk meminjamkan paten dan mengirimkan pakarnya untuk mengentaskan permasalahan peternakan sapi bali di NTT.
Pembentukan konsorsium ini diharapkan menjadi dorongan riset yang kuat bagi sektor peternakan di Indonesia Timur, yang telah menjadi komoditas unggulan dan berkontribusi besar bagi ekonomi masyarakat NTT sejak tahun 1970-an. (Fnt)
