KUPANG – Integrasi antara deep learning (belajar secara mendalam) dan biologi diyakini dapat membuka jalan bagi lahirnya inovasi baru di dunia pendidikan dan penelitian. Gagasan ini mengemuka dalam kuliah bertema “Deep Learning dan Biologi: Sinergi untuk Inovasi Pendidikan dan Riset” yang diselenggarakan oleh Program Studi Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Rabu (5/11/2025).
Kegiatan yang digelar secara hibrida (daring dan luring) ini menghadirkan pembicara kunci Dr. Muzzazinah, M.Si., Dosen Pendidikan Biologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Dalam paparannya, Dr. Muzzazinah menekankan pentingnya memahami hubungan antarproses kehidupan secara mendalam, alih-alih sekadar menghafal konsep.

Menurut Dr. Muzzazinah, deep learning tidak hanya dimaknai sebagai teknologi kecerdasan buatan, tetapi juga sebagai cara berpikir ilmiah yang menekankan pemahaman utuh terhadap suatu sistem. “Dalam konteks biologi, pembelajaran tidak cukup hanya menghafal istilah dan proses, tetapi harus memahami fungsi dan hubungan antarkomponen kehidupan secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia menegaskan, mahasiswa biologi saat ini harus multitalenta: mampu menggabungkan kemampuan ilmiah, kreativitas, dan literasi teknologi. “Mahasiswa bisa memotret alam dan vegetasinya, membuat video pembelajaran, melakukan dokumentasi lapangan, bahkan menggunakan media digital untuk studi perilaku atau ekologi hewan,” terangnya.

Dr. Muzzazinah menekankan bahwa semua aktivitas tersebut adalah bagian dari proses deep learning. “Ini bagian dari proses deep learning. Bukan sekadar hasil akhir, tetapi pengalaman belajar yang membangun cara berpikir kritis dan adaptif,” tambahnya.
Selain teknologi, Dr. Muzzazinah juga menyoroti pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dalam proses pembelajaran. Ia memberikan contoh penelitian tentang pewarna alami untuk tenun tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki nilai ilmiah tinggi.
“Kita memiliki banyak tanaman yang bisa menjadi sumber pewarna alami. Namun, konservatornya semakin sedikit. Mahasiswa biologi perlu hadir di situ. Menjadi konservator alam, menjaga biodiversitas dan membantu pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar tetap menggunakan bahan alami,” katanya.

Melalui contoh tersebut, ia menunjukkan bahwa deep learning dapat diterapkan tidak hanya lewat teknologi modern, tetapi juga dengan menggali potensi lokal dan mengaitkannya dengan realitas sosial serta pelestarian budaya.
Dr. Muzzazinah menambahkan, pembelajaran biologi berbasis deep learning juga relevan diterapkan dalam penyusunan perangkat ajar seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar berbasis capaian pembelajaran yang mendorong pemahaman mendalam.
“Ilmu bukan diukur dari seberapa banyak yang kita pelajari, tetapi seberapa dalam kita memahaminya dan seberapa besar manfaatnya bagi kemanusiaan,” tutup Dr. Muzzazinah. Ia berharap sinergi ini dapat menumbuhkan budaya belajar yang efektif, riset yang bermakna, serta biologi yang berpihak pada inovasi dan kemanusiaan. (ref)
