KUPANG – Peran gender dan pemberdayaan masyarakat ditegaskan sebagai kunci utama untuk membangun Nusa Tenggara Timur (NTT) dari level akar rumput. Penegasan ini mengemuka dalam Seminar Nasional yang digelar oleh Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) pada Jumat, 26 September 2025, secara daring.
Mengambil tema “Membangun NTT dari Akar Rumput: Gender, Pemberdayaan, dan Ketahanan Sosial dalam Era Perubahan,” seminar ini menghadirkan dua narasumber utama: Dr. Arianti Ina R. Hunga, M.Si, dari Universitas Kristen Satya Wacana, dan Gadrida R. Djukana, S.H., M.H., seorang jurnalis sekaligus aktivis perempuan terkemuka di NTT.

Dr. Ina Hunga menyoroti pentingnya riset yang berpihak pada masyarakat. Ia menekankan bahwa mahasiswa harus didorong untuk melakukan penelitian sejak semester awal agar hasilnya memberikan dampak langsung di lapangan. Ia mencontohkan riset tentang tenun Sumba yang dikembangkannya sejak 2018 sebagai gerakan sosial baru yang memberdayakan perempuan.
Ina Hunga juga memberikan perspektif baru tentang isu krusial di NTT. “Stunting jangan hanya dilihat sebagai persoalan kesehatan. Akar masalahnya adalah konstruksi sosial gender yang perlu dibongkar,” tegasnya. Menurutnya, riset—bahkan yang berstandar internasional—harus tetap berlandaskan kearifan lokal dan perspektif keadilan gender.
Sementara itu, Gadrida Djukana menyoroti kemiskinan, perubahan iklim, dan ketidakadilan gender yang dialami masyarakat, terutama perempuan di NTT. Ia dengan lugas menyatakan bahwa kemiskinan yang dialami perempuan bukanlah takdir, melainkan akibat kemiskinan struktural yang lahir dari kegagalan negara dalam memenuhi hak-hak dasar warganya.
“Kemiskinan perempuan bukan takdir, bukan karena malas, tetapi karena negara gagal menyejahterakan perempuan,” ungkap Gadrida, memberikan pernyataan yang menantang status quo. Ia menekankan perlunya pelibatan laki-laki dalam mewujudkan keadilan gender.
Gadrida juga memaparkan betapa strategisnya peran perempuan dalam menjaga ketahanan sosial. Ini meliputi pengelolaan pangan keluarga, partisipasi dalam musyawarah pembangunan desa, hingga usaha mikro yang menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga.
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, Gadrida memberikan contoh sederhana mengenai prioritas alokasi sumber daya. “Sepuluh ribu di tangan perempuan bisa jadi telur untuk anak, tapi di tangan laki-laki bisa jadi rokok. Itulah bedanya,” ujarnya, menyoroti kecenderungan perempuan untuk memprioritaskan kebutuhan dasar keluarga.




Seminar yang dihadiri pleh lebih dari dua ratus partisipan ini menyimpulkan bahwa upaya membangun NTT tidak akan berhasil hanya dengan memenuhi target administratif. Pembangunan harus didorong oleh pelibatan perempuan yang setara dan pemanfaatan kearifan lokal sebagai fondasi solusi.
Perspektif gender dan pemberdayaan masyarakat kini menjadi strategi penting agar pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus menciptakan masyarakat yang tangguh dan sejahtera dari akar rumput. (Moi)
