(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Resmi Sandang Gelar Doktor Undana: Wagub NTT Johanis Asadoma Gagas Model Asadoma untuk Digitalisasi Pendidikan Inklusif

KUPANG – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johanis Asadoma, mencatatkan prestasi akademik dengan sukses mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Sidang Promosi Doktor. Sidang yang dilaksanakan pada Rabu, 26 November 2025, di Grha Cendana, Universitas Nusa Cendana (Undana), ini secara resmi menganugerahkan gelar Doktor Ilmu Administrasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) kepada Johanis Asadoma.

Disertasi yang dipertanggungjawabkan berjudul “Analisis Kebijakan Publik dalam Penyelenggaraan Pendidikan Menengah Berbasis Teknologi Informasi Digital Inklusif di Kota Kupang, Provinsi NTT.” Kehadiran penguji eksternal, Prof. Yudho Giri Sucahyo, Ph.D. dari Universitas Indonesia, dan partisipasi daring dari Kalemdiklat Polri, Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., menegaskan bobot ilmiah riset ini.

Model Asadoma: Integrasi Tiga Pilar untuk Kesenjangan Digital

Berangkat dari latar belakang kesenjangan digital di pendidikan menengah NTT, Dr. Johanis Asadoma memperkenalkan Model Asadoma, sebuah kebaruan intelektual Multifasial yang menawarkan solusi efektivitas implementasi kebijakan digitalisasi pendidikan melalui integrasi tiga pilar krusial: Human Behavior: Fokus pada mengatasi resistensi psikologis aktor terhadap digitalisasi, Kebijakan Afirmatif: Menekankan alokasi sumber daya yang berpihak dan memprioritaskan sekolah 3T untuk keadilan akses dan Local Political Will: Mendorong kemauan politik lokal Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menerbitkan regulasi yang menjembatani kebijakan pusat dengan realitas di lapangan.

    Di akhir pemaparannya, Dr. Asadoma menyampaikan pesan yang selaras dengan visinya membangun pendidikan NTT.

    “Setiap anak NTT adalah masa depan. Melalui pendidikan yang inklusif, mereka bukan hanya bermimpi, tetapi berhak mendapatkan dunia yang lebih adil dan sejahtera,” tutupnya.

    Inspirasi bagi Generasi Muda

    Keberhasilan meraih gelar Doktor ini menjadi tonggak pribadi sekaligus inspirasi publik, mengingat perjalanan studinya sempat tertunda hingga enam tahun akibat tuntutan tugas sebagai pemimpin daerah.

    “Sempat muncul pikiran ‘cukuplah, untuk apa lagi semuanya sudah dicapai’, namun sebagai pemimpin daerah, saya merasa harus menunjukkan kemauan yang tinggi… Pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda NTT,” ungkapnya.

    Keberhasilan ini menegaskan peran Undana sebagai lembaga pendidikan tinggi yang melahirkan gagasan strategis bagi pembangunan daerah, khususnya dalam transformasi pendidikan digital yang inklusif di NTT. (Audc)

    Comments are closed.
    Arsip