KUPANG – Perguruan tinggi di Indonesia dihadapkan pada panggilan nyata untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan mendasar di berbagai wilayah, mulai dari daerah tertinggal, prioritas kemiskinan ekstrem, hingga wilayah rawan bencana. Melalui Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) 2025, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) menyoroti urgensi peran perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui Tridarma, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Program ini resmi dibuka dengan batas waktu penerimaan proposal hingga 22 Juni 2025.
Beragam permasalahan di Indonesia memang memiliki pengelompokan yang jelas. Wilayah dengan tingkat kemiskinan dan aksesibilitas sumber daya terbatas digolongkan sebagai daerah tertinggal (Perpres No. 63 tahun 2020) atau wilayah prioritas kemiskinan ekstrem (Kemenko PMK: TNP2K tahun 2022). Di sisi lain, Indonesia juga memiliki wilayah rawan bencana seperti gunung api, gempa bumi, dan tsunami (Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2016 dan Indeks Risiko Bencana Indonesia 2023). Kompleksitas tantangan ini menuntut pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif dari berbagai pihak.
Untuk menjembatani kesenjangan ini dan mengoptimalkan peran perguruan tinggi, Ditjen Risbang melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) meluncurkan Program Kosabangsa. Inisiatif ini adalah wujud kontribusi nyata insan perguruan tinggi dalam pengembangan kesejahteraan dan kemajuan bangsa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya. Fokus utama Kosabangsa adalah menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan partisipasi penuh dari masyarakat itu sendiri, menyelaraskan keilmuan perguruan tinggi dengan potensi lokal.
Program Kosabangsa hadir sebagai jembatan penting dalam kolaborasi pengembangan dan penerapan teknologi serta inovasi hasil riset perguruan tinggi. Melalui program pendanaan ini, implementasi di masyarakat disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan setempat, mewujudkan “Diktisaintek Berdampak” lewat pengabdian kolaboratif dan berbasis riset. Prioritas utama Program Kosabangsa diberikan kepada wilayah daerah tertinggal dan wilayah prioritas kemiskinan ekstrem, yang kemudian disebut sebagai wilayah prioritas Kosabangsa.
Dalam konteks Program Kosabangsa 2025 yang baru saja dibuka, Undana memiliki posisi strategis untuk menghadirkan ide-ide riset yang transformatif, berakar pada kebutuhan riil masyarakat kepulauan lahan kering. Keberadaan Undana di NTT memberikan pemahaman mendalam tentang kompleksitas permasalahan yang dihadapi masyarakat di wilayah ini. Mulai dari keterbatasan akses air bersih, ancaman krisis pangan akibat lahan kering, rendahnya produktivitas pertanian, hingga tantangan mitigasi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan dan banjir bandang sesaat. Sebagai perguruan tinggi yang secara geografis berada di daerah prioritas Kosabangsa, Undana memiliki keunggulan komparatif dalam memahami nilai-nilai pengetahuan lokal, sosial, budaya, serta potensi sumber daya alam dan manusia di wilayahnya.
Dalam pelaksanaannya, Program Kosabangsa berupaya membangun kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pihak-pihak yang terlibat dalam kolaborasi ini disebut dengan Aktor Kosabangsa, yang meliputi akademisi, pemerintah daerah, industri, masyarakat, dan media. Keterlibatan aktif dari para aktor ini diharapkan dapat menciptakan iklim kolaborasi yang maksimal, mempercepat penerapan, dan menyebarluaskan teknologi dan inovasi yang tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Program Kosabangsa mendorong kolaborasi multipihak, dan Undana dapat menjadi inisiator utama dalam membangun sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, masyarakat adat, pelaku usaha lokal, dan NGO. Misalnya, riset mengenai model pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, atau pengembangan ekowisata berbasis komunitas yang berkelanjutan di pulau-pulau kecil. Ini bukan hanya tentang transfer teknologi, tetapi juga tentang pembangunan kapasitas masyarakat dan penguatan kearifan lokal.
<p Undana juga dapat mengarahkan riset pada aspek sosial dan budaya yang kuat di wilayah kepulauan lahan kering. Riset tentang mitigasi dampak sosial-ekonomi kekeringan terhadap kelompok rentan, atau pemetaan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, akan sangat relevan. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan riset dan pengabdian, Undana akan memastikan bahwa solusi yang dihasilkan tidak hanya ilmiah tetapi juga diterima dan berkelanjutan secara sosial.Penerimaan proposal Program Kosabangsa hingga 22 Juni 2025 ini adalah kesempatan emas bagi dosen dan peneliti Undana untuk menyalurkan ide-ide brilian mereka. Ini adalah saatnya bagi sivitas akademika Undana untuk menunjukkan bahwa tantangan lahan kering bukanlah penghalang, melainkan pemicu inovasi. Setiap proposal riset yang diajukan bukan sekadar dokumen akademik, melainkan harapan bagi ribuan masyarakat di kepulauan NTT yang mendambakan kehidupan yang lebih baik. (Ing)
