KUPANG – Akademisi sekaligus Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Kalvein Rantelobo, S.T., M.T., memperkenalkan hasil riset terobosan berupa Jaringan Sensor Nirkabel (Wireless Sensor Network/WSN) berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini memberikan harapan baru bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas pertanian presisi di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang dikenal dengan tantangan lahan kering dan iklim ekstrem.
Riset yang sudah berjalan selama empat tahun dan menghasilkan dua paten ini bertujuan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan langsung pada kebutuhan masyarakat, terutama para petani.
“Sekecil apa pun manfaatnya, yang penting ilmu tersebut diimplementasikan sehingga bisa dirasakan masyarakat luas. Kami memutuskan mengambil tema pertanian presisi, langsung pada apa yang dibutuhkan masyarakat,” ungkap Prof. Kalvein dalam acara Undana Talk yang disiarkan melalui kanal YouTube Pos Kupang pada Rabu, 26 November 2025.
Mekanisme IoT: Data Presisi untuk Pengambilan Keputusan
Cara kerja teknologi yang dikembangkan oleh tim Undana ini memanfaatkan sensor-sensor yang ditempatkan di lahan pertanian untuk mengukur parameter penting, seperti kelembapan tanah, suhu udara, intensitas cahaya, dan pH tanah. Data tersebut kemudian dikirimkan secara nirkabel ke platform IoT yang dapat diakses oleh petani melalui gawai (smartphone).
“Dengan data yang terintegrasi dan presisi, petani dapat menganalisis langkah berikutnya, seperti perencanaan musim tanam, jenis tanaman, hingga simulasi harga pasar dengan konsep smart farming,” jelas Prof. Kalvein.
Ia menambahkan bahwa fokus utama pengembangan teknologi ini adalah otomatisasi irigasi sebagai langkah efisiensi air dan mitigasi iklim kering. Ke depan, teknologi akan dikembangkan untuk penggunaan lainnya, termasuk pemupukan otomatis dan deteksi hama.

Tantangan Literasi dan Call to Action
Meskipun sudah diterapkan pada Kelompok Tani Imanuel di Desa Oematnunu, Kupang Barat, melalui hibah Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Prof. Kalvein mengakui bahwa penerapan sistem ini masih menghadapi dua tantangan besar.
Tantangan pertama yaitu Infrastruktur Jaringan: Keterbatasan infrastruktur jaringan di beberapa daerah NTT yang mengganggu transmisi data. Namun, kondisi ini dilaporkan mulai membaik seiring pencanangan “Internet Rakyat” oleh Pemerintah. Kedua, Literasi Teknologi: Masih terbatasnya pemahaman dan kesadaran petani terkait pentingnya teknologi presisi ini.
Prof. Kalvein Rantelobo berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan setidaknya satu petani inovatif yang menerapkan sistem ini sepenuhnya sebagai contoh, dan mendorong generasi muda NTT untuk mengambil peran.
“Untuk NTT, mau siapa lagi kalau bukan kalian para generasi muda yang harus mengambil peran. Sudah saatnya lahan-lahan pertanian kita diolah dengan karya sendiri, karena ini peluang besar yang perlu dicoba bersama-sama,” tegasnya. (FnT)
