KUPANG – Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Museum Daerah NTT. Kemenangan ini menjadi bukti nyata kualitas mahasiswa Undana dalam bersaing di ajang ilmiah tingkat regional.
Tim yang beranggotakan Septiani Melita Namung, Julius Fernando Plaun, dan Yohana Putri Mayang Sari ini mengusung karya tulis berjudul “Transformasi Ritus Teing Hang di Manggarai: dari Toto Urat Menuju Doa Simbolik”. Karya ini dinilai relevan dengan tema lomba, yaitu “Transformasi Ritual Adat dalam Konteks Masyarakat Modern di NTT.”

Dalam wawancara, Septiani Melita Namung menjelaskan bahwa motivasi utama timnya adalah untuk mengharumkan nama almamater. “Kami ingin berkembang sekaligus membawa nama baik Undana. Dukungan dari dosen pembimbing dan Kaprodi sangat berarti bagi kami,” ujarnya.
Prestasi ini terasa lebih istimewa karena diraih di tengah keterbatasan waktu. Septiani menceritakan, informasi lomba baru diterima beberapa hari sebelum pelaksanaan. Mereka harus bekerja ekstra, melakukan studi literatur dari jurnal, artikel, dan buku, bahkan sampai begadang demi menyelesaikan karya tulis tepat waktu.
“Tantangan terbesar adalah menahan ego dalam kerja tim dan berpacu dengan deadline. Kami bahkan baru membuat presentasi sehari sebelum lomba,” ungkap Septiani. Kerja keras dan kolaborasi yang solid menjadi kunci utama mereka dalam menghadapi semua tantangan.
Pada hari lomba, tim Undana tampil meyakinkan di hadapan dewan juri. Judul karya yang kontekstual, presentasi yang lugas, dan jawaban komprehensif saat sesi tanya jawab menjadi faktor penentu kemenangan. Mereka berhasil mengalahkan berbagai tim dari perguruan tinggi lain, termasuk dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) dan Universitas Muhammadiyah.
Bagi Septiani, kemenangan ini memiliki makna personal yang mendalam. “Ini podium pertama saya sebagai mahasiswa Undana, karena sebelumnya saya hanya sampai runner-up. Rasanya seperti memutus kutukan runner-up,” katanya sambil tersenyum bangga.

Karya tulis yang diangkat juga memiliki makna penting. Septiani menekankan perlunya peran museum sebagai ruang edukasi bagi generasi muda. Menurutnya, di tengah derasnya arus modernitas, museum menjadi tempat yang mengingatkan mereka akan jati diri budaya yang mulai tergerus. “Museum penting untuk memantik kesadaran agar generasi muda tidak melupakan jati diri budayanya,” jelasnya.
Prestasi ini bukan hanya sebatas pencapaian pribadi, melainkan juga bukti bahwa Undana terus berperan aktif dalam menjaga dan memperkenalkan identitas budaya lokal NTT kepada masyarakat luas melalui karya-karya ilmiah berkualitas.
Septiani berharap kemenangan ini menjadi pijakan untuk meraih capaian yang lebih tinggi di masa depan. “Semoga kami bisa terus berprestasi dan membawa dampak positif bagi Universitas Nusa Cendana,” tutupnya, memberikan motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berinovasi. (Moi)
