(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

HPU Undana Targetkan Pembentukan Konselor Sebaya di Setiap Fakultas

KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) secara serius menanggapi isu kesehatan mental mahasiswa dengan memperkuat layanan dukungan psikologis. Upaya ini diwujudkan melalui Pelatihan Peer Counselor Sebaya pada Sabtu (18/10/2025), yang membekali mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknik (FST), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) untuk menjadi garis pertahanan pertama bagi teman-teman mereka.

Pelatihan ini merupakan inisiatif integral dari Tim Health Promoting University (HPU) Undana, sebagai tindak lanjut dari Training of Trainer (ToT) yang diselenggarakan sebelumnya oleh Pusat Layanan Informasi Kesehatan LP2M Undana dan Layanan Psikologi Undana.

Respon Cepat Terhadap Tingginya Kasus Depresi Mahasiswa

Ketua Tim HPU Undana, Dr. dr. Nicolas Edwin Handoyo, M.Med.Ed., yang akrab disapa dr. Niko, menyoroti urgensi pelatihan ini yang dipicu oleh keprihatinan atas tingginya kasus bunuh diri dan masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

“Pentingnya kita harus tahu bahwa sehat bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga akademik dan mental. Jika tubuh dan mental sehat, kalian akan punya kehidupan sosial yang baik,” ungkap dr. Niko saat membuka kegiatan di FST.

Dr. Niko memaparkan data mengejutkan bahwa sekitar 60% mahasiswa mengalami gejala depresi, membuat peran peer counselor sangat krusial sebagai jembatan pertolongan pertama. Peran ini menjadi vital mengingat keterbatasan sumber daya: Undana hanya memiliki sekitar 15 psikolog untuk melayani lebih dari 30 ribu mahasiswa.

Peer counselor inilah yang kami harapkan bisa menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan awal bagi teman-temannya yang mengalami tekanan mental,” tambah dr. Niko.

Membangun Empati dan Keterampilan Etis

Pelatihan ini tidak hanya berisi sesi materi, tetapi juga diperkaya dengan simulasi role play antara konselor, klien, dan pengamat, yang menjamin praktik konseling berjalan sesuai prinsip etis. Zerlinda Christine Aldira Sanam, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Layanan Psikologi Undana, menegaskan bahwa kemampuan konseling sebaya dapat dimiliki oleh siapa pun.

“Menjadi konselor tidak harus berlatar belakang psikologi atau psikiatri. Siapa pun bisa asal punya kemauan, pengetahuan, dan latihan. Yang terpenting adalah kepekaan dan kesungguhan untuk menolong dengan cara yang tepat,” jelasnya.

Mahasiswa trainee sekaligus fasilitator di FISIP, Christina Nepa, menilai pelatihan ini memperkaya pemahaman praktis di luar teori perkuliahan, menumbuhkan empati dan kepedulian sosial di kampus. Senada dengan itu, Greesin Joy Inchristy Ndiy (Mahasiswa FKKH) mengaku sesi praktik membuat mereka sadar bahwa saling mendukung itu sangat penting.

Langkah Selanjutnya: SK Dekan untuk Unit Konseling Fakultas

Dr. Niko memastikan bahwa LP2M Undana akan mendorong pembentukan unit konseling sebaya di setiap fakultas pasca-pelatihan ini, yang akan dilegalkan melalui Surat Keputusan (SK) Dekan.

“Harapan kami, setiap fakultas nantinya memiliki tim konseling yang aktif, sehingga layanan kesehatan mental di Undana bisa berjalan dari tingkat fakultas hingga universitas secara berkelanjutan,” tegas dr. Niko.

Melalui program pemberdayaan ini, Undana mengukuhkan peran vital mahasiswa sebagai mitra aktif dalam mewujudkan kampus yang sehat. Dukungan psikologis kini tidak lagi eksklusif, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh civitas akademika. (Audc)

Comments are closed.
Arsip